VISI PAROKI:

Gereja Umat Allah yang dengan bimbingan Roh Kudus terus menerus membangun persekutuan sehati sejiwa, yang berpusat pada Yesus Kristus; berakar dalam komunitas jemaat Lingkungan, beriman mendalam, kokoh, dewasa, misioner dan memasyarakat

02 Maret 2013

NOVENA BAGI KONKLAF



NOVENA bagi KONKLAF
Di wilayah Keuskupan Surabaya

Bapa Surgawi, Kami Umat-Mu,
berkumpul dalam solidaritas seperti yang dilakukan para murid di ruang Senakulum, berdoa untuk turunnya Roh Kudus atas para Kardinal yang hadir di konklaf untuk pemilihan wakil Yesus Kristus, Tuhan kami. Semoga hati dan budi para Kardinal terbuka terhadap kebijaksanaan Roh Kudus-Mu, melampaui segala pertimbangan manusiawi, untuk memilih Paus yang paling berkenan bagi-Mu dan yang akan membimbing Gereja Kudus-Mu saat ini dan sejarah ke depan. Utuslah Roh Kudus-Mu maka segalanya akan dicipta lagi dan Engkau membaharui muka bumi.

Ya Yesus, Tuhan dan Gembala Agung kami,
Kuasailah hati dan budi para Kardinal-Mu, yang sedang bersekutu di konklaf untuk memilih Paus baru, yakni hamba-Mu yang Kau-percayai untuk menjadi wakil-Mu di bumi ini dan menggembalakan kami menyusuri sejarah menuju kerajaan-Mu. Kami memohon pula kepada Bunda Maria, sebagaimana pada Pentakosta, dia bersatu dalam doa dengan para murid di ruang Senakulum, supaya saat ini juga berdoa bagi para Kardinal untuk memilih Bapa Suci yang baru dalam kepatuhan terhadap bisikan Roh Kudus.

Santa Maria, mempelai Roh Kudus, Bunda Allah dan Bunda Gereja, kami mempercayakan konklaf ini pada hati tak bernoda dan keibuan-mu. Kami mempersembahkan doa ini kepada bimbingan dan perlindunganmu selama Pemilihan Wakil Putra-mu berlangsung.

Bapa Kami…
Salam Maria…
Kemuliaan...

12 Oktober 2012

Surat Gembala Tahun Iman Bagi Umat Katolik Keuskupan Surabaya (Dibacakan di semua gereja dan kapel di seluruh wilayah Keuskupan Surabaya, tanggal 6-7 atau 13-14 Oktober 2012) Para Saudara terkasih, Bapa Suci Paus Benediktus XVI, melalui Surat Apostolik dengan judul “Porta Fidei” (Pintu Kepada Iman), telah mencanangkan Tahun Iman, yang akan dimulai pada tanggal 11 Oktober 2012 dan akan ditutup pada Hari Raya Tuhan kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam pada tanggal 24 November 2013. Perayaan Tahun Iman ini berkaitan dengan peringatan 50 tahun Pembukaan Konsili Vatikan II dan 20 tahun sejak penerbitan buku Katekismus Gereja Katolik terbaru. Untuk Keuskupan Surabaya, saya akan membukanya dengan perayaan Ekaristi pada tanggal 18 Oktober 2012 di Gua Maria Lourdes Puhsarang - Kediri, pukul 23.00 WIB. Dalam Surat Apostolik tersebut Bapa Suci mengharapkan agar karunia iman yang telah kita peroleh berkat sakramen baptis sungguh dapat memberikan kekuatan dan pembaharuan nyata dalam hidup. Oleh karena itu, melalui Surat Gembala ini saya ingin menyapa para imam, biarawan-biarawati, katekis, para pengurus Gereja dan seluruh umat Allah di Keuskupan Surabaya ini, agar memberi perhatian khusus akan pentingnya iman bagi kehidupan, dan agar mengisi Tahun Iman ini dengan pelbagai kegiatan yang diadakan di tempat masing-masing di tingkat kevikepan, paroki, wilayah, lingkungan, stasi, maupun juga di kelompok-kelompok kategorial. Tahun Iman akan sungguh menjadi saat berahmat bila kita mengisi tahun ini dengan: memperdalam, mempelajari, merayakan, dan menghayati iman yang benar dalam kehidupan nyata. Sumber iman kita adalah Kitab Suci dan Tradisi penerusan iman oleh kuasa mengajar Gereja (Magisterium). Dalam hal ini, Bapa Suci mengingatkan bahwa Katekismus Gereja Katolik T a h u n I m a n | 2 merupakan salah satu buah Konsili Vatikan II sebagai sumber pengajaran iman yang resmi dan benar. Iman adalah tanggapan pribadi dan perjumpaan dengan Allah yang mewahyukan diri dalam pribadi Yesus Kristus yang sudah bangkit. Dari perjumpaan pribadi tersebut kita didorong untuk memahami isi pengakuan iman-kepercayaan yang benar dan meneruskannya kepada generasi yang akan datang. Saat ini kita menghadapi dua krisis dalam hal iman: kehilangan identitas kekatolikan dan selanjutnya bahaya kehilangan iman. Hal ini ditandai dengan maraknya trend 'jajan rohani' di tengah aneka aliran kerohanian serta relativisme keyakinan yang bisa mengaburkan identitas dan otentisitas iman Katolik sebagaimana diwariskan para Rasul. Gereja Katolik sesungguhnya penuh dengan kekayaan kebenaran ilahi, namun seringkali kita kurang menggali dan merasakan betapa sedapnya dihidupi oleh Sabda Allah dan Roti Kehidupan, serta khazanah Ajaran Gereja ini. Maka tepatlah seruan Paus, bahwa di jaman kita ini: “iman adalah anugerah yang perlu ditemukan kembali, dipelihara dan dinyatakan dalam kesaksian”. Jikalau tidak demikian, kita berada dalam bahaya kehilangan iman. Manusia dibenarkan karena iman (Rm 3:28) namun iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong (bdk. Yak 2:20.24). Iman membuat kita menjadi tanda nyata atas kehadiran Tuhan yang menyelamatkan jikalau diwujudkan dalam kesaksian hidup. Orang zaman sekarang membutuhkan kesaksian yang dapat dipercaya dari mereka yang mendapatkan pencerahan di dalam budi dan hatinya oleh Sabda Tuhan, sekaligus kesaksian yang mampu membuka hati dan budi banyak orang umtuk merindukan Allah serta kehidupan sejati. Untuk menghidupkan, memperdalam, dan menguatkan iman agar menjadi subur dan menghasilkan buah berlimpah, perlulah pendalaman Kitab Suci dan Ajaran Gereja, perayaan liturgi, serta kesaksian hidup yang nyata. Pengakuan iman selayaknya diikuti dengan penerimaan kehidupan T a h u n I m a n | 3 sakramental, dalam mana Kristus hadir, bertindak, dan terus membangun Gereja-Nya. Tanpa liturgi dan sakramen-sakramen, pengakuan iman akan kehilangan daya gunanya, sebab ia akan kehilangan rahmat yang mendukung kesaksian Kristiani. Dalam hal ini, katekese memiliki peranan sentral. Sarana pokok katekese yang tak tergantikan agar kita sampai pada pemahaman sistematis akan iman yang benar adalah Katekismus Gereja Katolik. Apakah kita sudah cukup mengenal dan mendalami Katekismus Gereja Katolik ini, sekurang-kurangnya ringkasannya dalam Kompendium Katekismus Gereja Katolik? Apakah kita sudah memelihara anugerah iman ini dan mewartakannya? Konsili Vatikan II telah membangkitkan kesadaran baru tentang arti dan peran Kitab Suci dalam kehidupan iman Gereja. Gereja telah melihat kembali dirinya melalui Kitab Suci. Demikianlah, Sabda Allah itu menjadi “penopang dan keteguhan Gereja” serta “kekuatan iman, santapan jiwa, sumber murni dan abadi dari hidup rohani bagi putera-puteri Gereja” (DV 21). Sabda Allah merupakan sarana untuk memupuk iman, sehingga iman kita bertumbuh, berkembang, dan berbuah, serta kita dapat bertahan dalam iman sampai akhir (lih. KGK no. 162). Hal ini sungguh relevan bagi kita, mengingat bahwa fokus pastoral Keuskupan Surabaya pada tahun 2013 adalah: Kitab Suci dan Orang Muda Katolik (OMK). Kita melihat bahwa Sabda Allah adalah sumber iman, sedangkan Orang Muda adalah generasi penerus iman. Dalam konteks orang muda sebagai generasi penerus iman, perlulah kita memberi kesempatan kepada Orang Muda Katolik untuk mengalami kegembiraan yang berasal dari iman kepada Yesus Kristus dalam persekutuan dengan seluruh Gereja Katolik. Kita perlu mengusahakan pertemuan katekese untuk Orang Muda Katolik, sehingga mereka menemukan kebanggaan beriman Katolik dan menjadi saksi iman di tengah masyarakat. Umat Allah yang terkasih, pada kesempatan ini, saya mengajak Anda untuk juga memberikan perhatian pada sekolah dan perguruan tinggi Katolik. Di tempat inilah kekayaan iman Gereja hadir secara nyata di tengah T a h u n I m a n | 4 masyarakat. Maka hendaklah kita memelihara iman insan Katolik di dalamnya dengan menggunakan Katekismus Gereja Katolik sebagai referensi utama pengajaran iman. Saya berharap agar seluruh umat Allah di Keuskupan Surabaya sungguh terlibat dalam mengisi Tahun Iman ini. Hendaknya para imam, biarawan-biarawati, katekis, guru agama, pengurus DPP-BGKP, serta kelompok-kelompok kategorial menjadikan Tahun Iman ini sebagai sebuah gerakan bersama. Kita semua mengambil bagian secara aktif, memperdalam pengetahuan tentang dokumen Konsili Vatikan II dan Katekismus Gereja Katolik, menyegarkan kembali tugas dan tanggung jawab serta ketrampilan dalam berkatekese, dan membangun kesadaran sebagai saksi iman yang sejati. Secara khusus saya mengingatkan para imam untuk mengajar para katekumen, memberikan pendalaman iman bagi umat, lebih intensif dalam pelayanan sakramen, serta mendalami kembali dokumen-dokumen Ajaran Gereja. Akhirnya, marilah kita mempercayakan saat berahmat ini kepada Bunda Maria, yang diwartakan sebagai yang berbahagia karena telah percaya (Luk 1:45). Semoga melalui doa dan perlindungannya, kita pun sampai pada kepenuhan hidup iman. Surabaya, 1 Oktober 2012 Pesta St. Theresia dari kanak-kanak Yesus Berkat Tuhan, Msgr. Vincentius Sutikno Wisaksono Uskup Keuskupan Surabaya T a h u n I m a n | 5 SURAT APOSTOLIK YANG DITERBITKAN SEBAGAI “MOTU PROPRIO” “PINTU KEPADA IMAN” DARI BAPA SUCI BENEDIKTUS XVI UNTUK MENCANANGKAN TAHUN IMAN (11 Oktober 2012 – 24 November 2013) 1. “Pintu kepada Iman” (Kis. 14:27), yang mengantar kita ke dalam persekutuan hidup dengan Allah dan yang membawa kita masuk ke dalam Gereja-Nya, senantiasa terbuka bagi kita. Mungkinlah bagi kita untuk melintasi ambang pintu ini apabila Sabda Allah diwartakan dan hati manusia membiarkan dirinya dibentuk oleh rahmat yang senantiasa mampu mengubah. Memasuki pintu gerbang itu berarti memulai suatu perjalanan yang akan berlangsung seumur hidup. Hal ini dimulai dengan baptisan (bdk. Rom. 6:4), dengan mana kita dapat menyebut Allah sebagai Bapa kita, dan perjalanan itu akan berakhir dengan kematian yang memasukkan kita ke dalam kehidupan kekal, buah kebangkitan Tuhan Yesus, yang dengan anugerah Roh Kudus, memang berkehendak menarik semua orang yang percaya kepada-Nya untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya (bdk. Yoh. 17:22). Beriman kepada Tritunggal – Bapa, Putra, dan Roh Kudus – berarti percaya kepada Allah yang MahaEsa yang adalah kasih (bdk. 1 Yoh. 4:8): Bapa, yang dalam kepenuhan waktu telah mengutus Putra-Nya demi keselamatan kita; Yesus Kristus, yang melalui misteri wafat dan kebangkitan-Nya telah menebus dunia; Roh Kudus, yang membimbing Gereja mengarungi jaman sambil menantikan kedatangan Tuhan kembali dalam kemuliaan. T a h u n I m a n | 6 2. Sejak mulai memangku jabatan sebagai Pengganti Petrus, saya telah mengingatkan tentang perlunya menemukan kembali perjalanan iman kita itu. Hal ini dimaksudkan untuk menampakkan dengan lebih jelas kegembiraan dan semangat yang diperbarui karena perjumpaan kita dengan Kristus. Dalam homili Misa Kudus untuk mengawali masa pontifikal, saya mengatakan: “Gereja, secara keseluruhan, bersama dengan semua pastornya, seperti Kristus, harus bergerak, untuk membimbing umat keluar dari padang gurun, menuju ke tempat kehidupan, ke dalam persahabatan dengan Putra Allah, kepada Dia, Sang Pemberi kehidupan, bahkan kehidupan yang berkelimpahan”.[1] Sering sekali terjadi, bahwa Umat Kristiani lebih menaruh perhatian kepada konsekuensi-konsekuensi sosial, budaya, dan politis dari kesibukan tugas mereka, dengan menganggap bahwa iman akan tampak jelas dengan sendirinya dalam hidup bermasyarakat. Kenyataannya, bukan saja anggapan semacam ini masih berlaku seperti dahulu, tetapi cukup sering secara terang-terangan iman itu kini diingkari.[2] Jika dahulu sangat mungkinlah orang dapat mengenali jalinan kebudayaan yang mempersatukan, di mana isi iman dan nilai-nilai yang diinspirasikan olehnya dapat diterima secara luas di dalamnya, sekarang situasi seperti itu tidak terjadi lagi dalam banyak kelompok kemasyarakatan, sebagai akibat dari krisis iman mendalam yang dialami oleh banyak orang. 3. Kita tidak dapat menerima bahwa garam menjadi tawar atau bahwa pelita ditaruh di bawah gantang (lih. Mat. 5:13-16). Orang jaman sekarang pun masih bisa merasakan kebutuhan pergi ke sumur, seperti wanita Samaria, untuk mendengarkan Yesus, yang mengundang kita agar percaya kepada-Nya serta menimba air hidup dari sumber yang memancar keluar dari dalam diri-Nya (lih. Yoh. 4:14). Kita harus menemukan kembali bagaimana sedapnya dihidupi oleh sabda Allah yang telah diteruskan oleh Gereja dengan setia, dan oleh roti kehidupan yang telah diserahkan bagi kehidupan para murid-Nya (bdk. Yoh. 6:51). Sungguh, pada jaman ini pun ajaran Yesus masih tetap bergema kuat: “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal.” (Yoh. T a h u n I m a n | 7 6:27) Bahkan pertanyaan yang kita ajukan sekarang pun masih sama dengan pertanyaan yang diajukan oleh para pendengar pada waktu itu: “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?” (Yoh. 6:28) Kita pun tahu jawaban Yesus: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah." (Yoh. 6:29) Maka percaya kepada Yesus Kristus adalah jalan untuk sampai dengan pasti kepada keselamatan. 4. Atas dasar itu semua maka saya telah mengambil keputusan untuk mencanangkan suatu Tahun Iman. Tahun itu akan dimulai pada tanggal 11 Oktober 2012, yakni hari ulang tahun kelimapuluh pembukaan Konsili Vatikan II, dan akan ditutup pada Hari Raya Tuhan kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam, pada tanggal 24 November 2013. Tanggal yang mengawali Tahun Iman itu, 11 Oktober 2012, merupakan juga hari ulang tahun keduapuluh publikasi buku Katekismus Gereja Katolik, sebuah naskah yang sudah dipromulgasikan oleh pendahulu saya, Beato Yohanes Paulus II[3], dengan maksud untuk memberikan gambaran tentang kekuatan dan keindahan iman-kepercayaan kita kepada segenap umat beriman. Dokumen tersebut, buah otentik Konsili Vatikan II, telah diminta oleh Sinode Luar-biasa Para Uskup pada tahun 1985 untuk dijadikan sarana-bantu bagi pelayanan katekese[4] dan telah diterbitkan dalam kerja-sama dengan semua Uskup dalam Gereja Katolik. Tambahan pula, tema Sidang Umum Sinode Para Uskup yang telah saya undang untuk bulan Oktober 2012 yang akan datang ini adalah: “Evangelisasi Baru Bagi Penerusan Iman Kristiani.” Hal itu akan menjadi kesempatan baik untuk menghantar masuk segenap Gereja ke dalam suatu masa refleksi khusus dan menemukan kembali iman-kepercayaannya. Ini bukan yang pertama kalinya Gereja dipanggil untuk merayakan suatu Tahun Iman. Pendahulu saya yang Mulia Hamba Tuhan Paus Paulus VI pernah memaklumkan hal yang sama pada tahun 1976, untuk memperingati kemartiran santo Petrus dan Santo Paulus pada peringatan sembilan belas abad tindakan kesaksian mereka yang paling T a h u n I m a n | 8 luhur. Menurut hemat Beliau, itulah saat yang paling mulia agar dalam seluruh Gereja terwujud “suatu pengakuan yang otentik dan tulus akan iman-kepercayaan yang sama.” Apalagi beliau menghendaki bahwa pengakuan itu dikuatkan lagi dengan cara “pribadi maupun bersama-sama, bebas namun bertanggngjawab, baik lahir maupun batin, rendah hati dan berterus-terang”[5]. Beliau berpendapat, bahwa dengan cara demikian seluruh Gereja dapat memulihkan kembali “pemahaman yang tepat atas iman-kepercayaan itu, untuk menguatkannya, memurnikannya, meneguhkannya, dan mengakuinya”[6]. Perayaan besar-besaran Tahun itu semakin menunjukkan betapa umat memang membutuhkan perayaan semacam itu. Perayaan tersebut diakhiri dengan Pengakuan Iman Umat Allah[7] untuk menunjukkan: betapa muatan hakiki iman itu yang selama berabad-abad telah membentuk warisan segenap orang beriman, perlu ditegaskan, dipahami, dan digali lagi dengan cara yang selalu baru, supaya kesaksian iman itu tetap konsisten dalam berbagai kondisi historis yang berbeda sekali dari masa lampau. 5. Dalam arti tertentu, Yang Mulia Pendahulu saya itu melihat Tahun Iman sebagai suatu “konsekuensi dan kebutuhan masa pascakonsili”[8], sambil menyadari sepenuhnya pelbagai kesulitan berat masa itu, terutama kesulitan yang berkaitan dengan pengakuan iman sejati dan penafsirannya yang benar. Menurut saya, saat pencanangan Tahun Iman yang bertepatan dengan ulang tahun kelimapuluh pembukaan Konsili Vatikan II ini dapat menjadi kesempatan yang tepat untuk memahami, bahwa naskah-naskah yang telah diwariskan oleh para Bapa Konsili itu, mengutip kata-kata Beato Yohanes Paulus II, “sama sekali belum kehilangan nilai dan kecemerlangannya.” Naskah-naskah itu perlu dibaca dengan benar, ditangkap dengan akal budi secara luas dan dicamkan di dalam hati secara mendalam sebagai dokumen yang penting dan mengikat dari Magisterium Gereja sendiri, semuanya di dalam jalur Tradisi Gereja … Saya sendiri merasa berkewajiban untuk menegaskan bahwa Konsili itu merupakan rahmat agung yang dicurahkan Allah kepada T a h u n I m a n | 9 Gereja di Abad XX, di mana kita dapat menemukan penunjuk arah untuk dapat mengarungi abad selanjutnya[9]. Saya juga ingin menekankan dengan sangat sekali lagi, apa yang sudah saya katakan tentang konsili ini beberapa bulan setelah saya terpilih sebagai Paus Pengganti Petrus: ”Apabila, kita menafsirkan dan mengimplementasikan Konsili itu dengan bimbingan suatu hermeneutika yang benar, maka Konsili itu bisa dan akan menjadi semakin berdaya-guna bagi pembaharuan Gereja yang senantiasa diperlukan.”[10] 6. Pembaruan Gereja juga bisa dilaksanakan melalui kesaksian yang diberikan oleh hidup umat beriman: yakni justru melalui cara-mengada mereka di dunia ini, Umat Kristiani dipanggil untuk memancarkan sabda kebenaran yang diwariskan Tuhan Yesus kepada kita. Konsili sendiri, dalam Konstitusi Dogmatik Lumen Gentium, mengatakan: “Sedangkan Kristus, yang ‘suci, tanpa kesalahan, tanpa noda,’ (Ibr 7:26) tidak mengenal dosa (lih. 2Kor. 5:21), melainkan datang hanya untuk menebus dosa-dosa umat (lih Ibr 2:17), Gereja merangkum pendosa-pendosa dalam pangkuannya sendiri. Gereja itu suci, dan sekaligus harus selalu dibersihkan, serta terus-menerus menjalankan pertobatan dan pembaharuan. Gereja, ‘dengan mengembara di antara penganiayaan dunia dan hiburan yang diterimanya dari Allah, maju, sambil mewartakan salib dan wafat Tuhan hingga Ia datang (lih 1Kor. 11:26). Tetapi Gereja diteguhkan oleh daya Tuhan yang telah bangkit, untuk dapat mengatasi sengsara dan kesulitannya, baik dari dalam maupun dari luar, dengan kesabaran dan cinta kasih, dan untuk dengan setia mewahyukan misteri Tuhan di dunia, kendati dalam kegelapan, sampai ditampakkan pada akhir Zaman dalam cahaya yang penuh”[11]. Dalam perspektif ini maka Tahun Iman adalah suatu panggilan kepada pertobatan yang otentik dan senantiasa diperbaharui untuk kembali kepada Tuhan, satu-satunya Juruselamat dunia. Melalui misteri wafat dan kebangkitan-Nya, Allah telah menyatakan secara penuh kasih yang menyelamatkan dan memanggil manusia kepada pertobatan hidup melalui pengampunan dosa (lih. Kis. 5:31). Bagi Santo Paulus, kasih ini memasukkan manusia ke dalam suatu kehidupan baru: “Kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah T a h u n I m a n | 10 dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” (Rom. 6:4) Melalui iman-kepercayaan, hidup baru ini membentuk seluruh keberadaan manusiawi kita secara radikal sesuai dengan keadaan baru sebagai buah kebangkitan. Sejauh manusia dengan bebas bekerja-sama, maka pikiran dan perasaan-perasaannya, mentalitas dan perilakunya sedikit demi sedikit akan dimurnikan dan ditransformasikan, dalam sebuah perjalanan yang tidak akan pernah sepenuhnya selesai di dalam hidup ini. “Hanya iman yang bekerja oleh kasih” (Gal. 5:6) akan menjadi kriteria baru bagi pemahaman dan tindakan yang mengubah seluruh hidup manusia (bdk. Rom. 12:2; Kol. 3:9-10; Ef. 4:20-29; 2Kor. 5:17). 7. “Kasih Kristus menguasai kita” (2Kor. 5:14): Kasih Kristuslah yang memenuhi hati kita dan mendorong kita untuk mewartakan kabar gembira. Sekarang ini, seperti juga dulu, Kristus mengutus kita ke lorong-lorong dunia ini untuk memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa di bumi (bdk. Mat. 28:16). Melalui kasih-Nya, Yesus Kristus menarik kepada diri-Nya orang-orang dari segala keturunan: dalam setiap jaman Dia menghimpun Gereja sambil mempercayakan kepada Gereja itu pewartaan Injil dengan perintah-Nya yang senantiasa baru. Pada jaman sekarang pun dirasa adanya kebutuhan akan komitmen Gereja yang lebih kuat bagi suatu evangelisasi baru, agar supaya orang menemukan kembali kegembiraan dalam percaya dan kegairahan dalam mengkomunikasikan iman itu. Dalam menemukan kembali kasih-Nya itu dari hari ke hari, kesiap-sediaan untuk diutus dari orang beriman ini mendapatkan kekuatan dan kegairahan yang tak akan pernah bisa pudar. Iman itu bertumbuh apabila ia dihidupi sebagai pengalaman kasih yang sudah diterima, juga bila ia dikomunikasikan sebagai suatu pengalaman rahmat dan kebahagiaan. Iman itu membuat kita berbuah subur, sebab dia memperluas hati kita dalam harapan dan memampukan kita untuk memberi kesaksian yang juga menghidupkan: memang, iman itu membuka hati dan budi siapa saja yang mendengar dan menjawab undangan Tuhan untuk tetap setia kepada sabda-Nya dan menjadi murid-Nya. Orang T a h u n I m a n | 11 yang percaya, demikian Santo Agustinus mengatakannya, “menguatkan dirinya sendiri dengan kepercayaannya itu.”[12] Santo Uskup dari Hippo itu memiliki alasan yang sungguh tepat untuk mengungkapkan dirinya seperti itu, karena sebagaimana kita tahu, hidupnya merupakan suatu pencarian terus-menerus akan keindahan iman-kepercayaan itu sampai saat ketika hatinya menemukan istirahat dalam Allah.[13] Karya tulisnya yang sangat ekstensif, di mana Agustinus memberi penjelasan tentang pentingnya percaya dan tentang kebenaran iman, sampai sekarang tetap merupakan warisan dengan kekayaan yang tiada taranya, dan tetap menjadi sarana bantu bagi banyak orang yang mencari Allah untuk menemukan jalan yang benar menuju “pintu kepada iman.” Karena itu, hanya melalui percaya, iman dapat bertumbuh dan menjadi kuat; tidak ada kemungkinan lain untuk mendapatkan kepastian yang berkaitan dengan kehidupan seseorang, selain dari pada meninggalkan diri sendiri dalam suatu crescendo yang terus-menerus, masuk ke dalam tangan-tangan kasih yang sepertinya terus bertumbuh tanpa henti karena memang berasal dari Allah. 8. Pada kesempatan yang membahagiakan ini, saya ingin mengundang saudara-saudara saya para Uskup dari seantero dunia untuk bergabung bersama dengan Pengganti Petrus selama masa yang penuh dengan rahmat spiritual yang dianugurahkan Tuhan kepada kita ini, untuk mengingat anugerah iman yang sangat berharga itu. Kita hendak merayakan Tahun itu secara pantas dan menghasilkan buah. Renungan-renungan tentang iman hendaknya digalakkan, untuk membantu segenap umat yang beriman kepada Kristus agar mendapatkan kesadaran yang lebih baik dan secara lebih bersemangat melekatkan diri kepada Kabar Gembira, khususnya ketika sedang terjadi perubahan mendalam seperti yang sedang dialami oleh umat manusia pada saat ini. Kita akan mendapat kesempatan untuk mengakui iman-kepercayaan kita akan Tuhan yang bangkit di gereja-gereja katedral kita T a h u n I m a n | 12 dan di dalam gereja-gereja di seluruh dunia; juga di rumah-rumah kita dan di antara kaum keluarga kita, sehingga setiap orang akan merasakan betapa perlunya pemahaman yang lebih baik dan kemudian untuk meneruskannya kepada generasi yang akan datang iman-kepercayaan segala jaman tersebut. Komunitas-komunitas biara seperti juga komunitas-komunitas paroki, dan semua lembaga-lembaga gerejani, baik yang lama maupun yang baru, semuanya harus menemukan cara untuk mengakui secara publik Credo kita sepanjang Tahun itu. 9. Pada tahun ini kita hendak membangkitkan dalam diri setiap orang beriman aspirasi untuk mengakui iman-kepercayaannya dalam kepenuhannya dan dengan keyakinan yang baru, juga dengan penuh kepercayaan dan harapan. Tahun ini akan menjadi juga sebuah kesempatan bagus untuk mengintensifkan perayaan iman itu di dalam liturgi, teristimewa di dalam perayaan Ekaristi, yang adalah “puncak ke mana seluruh kegiatan Gereja diarahkan … tetapi juga adalah sumber dari mana seluruh kekuatan Gereja itu … mengalir.”[14] Pada saat yang sama, kita berdoa juga agar kesaksian hidup umat beriman semakin dapat dipercaya. Untuk menemukan kembali isi iman yang diakui, dirayakan, dihayati dan didoakan[15], dan untuk merenungkan kembali kegiatan iman itu adalah tugas yang setiap umat beriman harus menjadikannya tugasnya sendiri, khususnya selama Tahun Iman ini. Bukan tanpa alasan jika umat Kristiani pada abad-abad pertama dituntut untuk menghafalkan pengakuan iman-kepercayaannya itu. Bagi mereka hal itu lalu berfungsi sebagai doa mereka setiap hari, agar mereka tidak melupakan komitmen yang telah mereka ikrarkan ketika mereka dibaptis. Dengan kata-kata yang sarat dengan makna, Santo Agustinus berbicara tentang hal ini dalam homili beliau tentang redditio symboli, tentang “penyerah-alihan pengakuan iman,” katanya: “Pengakuan iman dari misteri-misteri kudus yang telah kalian terima secara serentak dan yang pada hari ini telah kalian ucapkan kembali satu demi satu itu, adalah kata-kata di atas mana iman- T a h u n I m a n | 13 kepercayaan Bunda Gereja didirikan dengan kokoh, pada landasan yang menetap, yang adalah Kristus, Tuhan sendiri. Kalian telah menerimanya, namun kalian harus tetap memeliharanya di dalam akal-budi dan hati-sanubari kalian, kalian harus tetap mengulang-ulangnya di ranjang tempat tidur kalian, tetap mengingat-ingatnya di pasar-pasar, tidak melupakannya sementara kalian makan-makan, bahkan ketika kalian sedang tidur pun, kalian harus tetap memperhatikannya dengan hati kalian.”[16] 10. Di sini saya ingin memberikan suatu garis besar dari sebuah sarana yang dimaksudkan untuk membantu kita memahami secara lebih mendalam, bukan saja isi muatan iman-kepercayaan itu, melainkan juga tindakan yang akan kita pilih untuk mempercayakan diri kita sepenuhnya kepada Allah dengan cara yang sebebas-bebasnya. Pada kenyataannya memang ada kesatuan yang mendalam antara tindakan dengan mana kita beriman dan muatan isi, kepadanya kita memberikan kesepakatan kita. Santo Paulus membantu kita memasuki kenyataan ini ketika dia menulis: “Dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.” (Rom. 10:10) Hati itulah yang menunjukkan bahwa tindakan pertama yang membawa seorang percaya adalah anugerah dari Allah dan tindakan rahmat yang bergiat dan mengubah seseorang dari dalam. Dalam kaitan ini secara khusus contoh dari Lydia menjadi sangat berarti. Santo Lukas menceriterakan, bahwa ketika berada di Filipi, pada suatu hari Sabbat, Paulus memberitakan Injil kepada beberapa wanita, di antaranya adalah Lydia dan “Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus” (Kis. 16:14). Di dalam ungkapan itu terkandunglah suatu makna yang penting. Santo Lukas mengajarkan, bahwa memahami muatan isi dari yang harus diimani tidaklah mencukupi, apabila hati, yakni tempat kudus yang khas dalam diri seseorang, tidak turut dibuka oleh rahmat yang membuat mata bisa melihat apa yang ada di bawah permukaan dan memahami, bahwa yang sedang diberitakan itu adalah Sabda Allah sendiri. T a h u n I m a n | 14 “Pengakuan dengan bibir” itu pada gilirannya menunjukkan, bahwa “beriman” itu mengandung juga pengertian “kesaksian secara publik” serta sebuah komitmen. Seorang Kristiani tidak pernah boleh berpikir bahwa beriman itu adalah urusan pribadi saja. Beriman berarti memilih untuk memihak kepada Allah dan dengan demikian berada dengan Dia juga. “Memihak kepada Dia” ini ke depan menunjuk kepada pemahaman akan alasan-alasan mengapa dia menjadi percaya. Iman-kepercayaan, justru karena dia adalah suatu tindakan yang bebas, juga menuntut pertanggungjawaban sosial atas apa yang diimaninya. Pada hari Pentakosta Gereja menunjukkan dengan sejelas-jelasnya dimensi publik dari keberimanan ini dan memberitakan dengan tanpa takut iman-keprcayaan seseorang kepada setiap orang. Anugerah Roh Kuduslah yang telah membuat kita siap untuk diutus dan menguatkan kesaksian kita serta menjadikannya terus-terang dan berani. Pengakuan iman adalah suatu tindakan yang sekaligus bersifat perseorangan sendiri-sendiri, tetapi juga secara berkomunitas bersama-sama. Gerejalah yang sebenarnya pertama-tama menjadi subjek iman-kepercayaan. Di dalam iman-kepercayaan dari komunitas kristiani, setiap pribadi individual menerima baptisan, suatu tanda yang efektif masuknya ke dalam kalangan umat beriman untuk memperoleh keselamatan. Dalam buku Katekismus Gereja Katolik, kita membaca: “Aku percaya”, itulah iman Gereja, sebagaimana setiap orang beriman mengakui secara pribadi, terutama pada waktu Pembaptisan. “Kami percaya” itulah iman Gereja, sebagaimana para Uskup yang berkumpul dalam konsili itu mengakui, atau lebih umum, sebagaimana umat beriman mengakui dalam liturgi. “Aku percaya”: demikianlah juga Gereja, ibu kita berbicara, yang menjawab Allah melalui imannya dan yang mengajar kita berkata: “aku percaya”, “kami percaya.”[17] Jelas sekali, bahwa pengetahuan akan isi iman-kepercayaan adalah sesuatu yang hakiki agar seseorang dapat memberikan persetujuannya, artinya untuk T a h u n I m a n | 15 mengikatkan diri sepenuhnya, dengan segenap akal-budi dan kehendaknya, kepada apa yang ditawarkan oleh Gereja. Pengetahuan akan iman-keprcayaan ini membuka pintu masuk ke dalam kepenuhan misteri karya penyelamatan yang diwahyukan oleh Allah. Persetujuan yang kita berikan itu berarti pula, bahwa ketika kita percaya, kita menerima dengan bebas seluruh misteri iman-kepercayaan, sebab penjamin dari kebenarannya adalah Allah sendiri, yang mewahyukan dirinya sendiri dan mengijinkan kita mengetahui misteri cinta-kasih-Nya.[18] Di pihak lain, kita tidak boleh melupakan, bahwa di dalam konteks budaya kita, ada banyak bangsa, yang meskipun tidak menyatakan memiliki anugerah iman itu, namun secara tulus mereka mencari arti makna yang tertinggi dan kebenaran yang pasti dari hidup dan dunia mereka. Pencarian ini merupakan “pendahuluan” yang otentik kepada iman-kepercayaan, justru karena ia menuntun orang pada jalan yang membawanya ke misteri Allah. Sebenarnya akal-budi manusia mengandung di dalam dirinya tuntutan pada “apa yang selamanya sahih dan langgeng.”[19] Tuntutan ini mengandung suatu panggilan yang menetap, karena terpatri secara tak-terhapuskan di dalam hati manusia, yang membuatnya bergerak mencari Dia yang kita tidak akan mencarinya seandainya Dia sudah tidak lebih dahulu bergerak untuk mendapatkan kita.[20] Pada perjumpaan inilah iman-kepercayaan mengundang kita dan membuka diri kita sepenuh-penuhnya. 11. Untuk sampai pada pemahaman sistematik pada isi iman-kepercayaan itu, semua orang dapat menemukannya di dalam buku Katekismus Gereja Katolik, suatu sarana-bantu yang sangat berharga dan tak tergantikan. Dokumen itu adalah salah satu buah terpenting Konsili Vatikan Kedua. Dalam Konstitusi Apostolik Fidei Depositum, yang ditandatangani, bukan hanya karena kebetulan, pada Hari Ulang Tahun ketigapuluh Pembukaan Konsili Vatikan II. Beato Yohanes Paulus II menulis: ”Katekismus ini akan menjadi suatu kontribusi yang sangat penting bagi karya pembaruan seluruh T a h u n I m a n | 16 kehidupan Gereja … Maka saya menyatakan katekismus itu menjadi suatu sarana-bantu yang sah dan legitim bagi persekutuan gerejawi dan menjadi norma yang pasti bagi pengajaran iman.”[21] Dalam arti inilah bahwa Tahun Iman itu harus mengupayakan suatu usaha terpadu untuk menemukan kembali dan untuk mempelajari isi muatan fundamental iman-kepercayaan yang sekarang disarikan secara sistematis dan secara organis di dalam Katekismus Gereja Katolik. Di sinilah, sebenarnya, kita melihat kekayaan ajaran yang telah diterima oleh Gereja, dijaga, dan diwartakan sepanjang dua ribu tahun sejarah keberadaannya. Dari Kitab Suci sampai ke Para Bapa-bapa Gereja, dari para pakar teologi sampai ke para kudus sepanjang segala abad, Katekismus ini memberikan rekaman yang menetap dari banyak cara yang dipergunakan Gereja untuk merenungkan iman itu dan berkembang maju dalam ajaran, dan dengan demikian kepastian bagi para beriman dalam kehidupan beriman mereka. Dalam strukturnya yang seperti itu Katekismus Gereja Katolik ini mengikuti perkembangan iman-kepercayaan langsung kepada tema-tema besar dalam kehidupan sehari-hari. Di setiap halaman demi halaman, kita temukan, bahwa apa yang disajikan di sini bukanlah teori belaka, akan tetapi sungguh suatu perjumpaan dengan Seorang Pribadi yang hidup di dalam Gereja. Pengakuan iman diikuti oleh penerimaan kehidupan sakramental di mana Kristus hadir, bergiat dan melanjutkan karya-Nya membangun Gereja. Tanpa liturgi dan sakramen-sakramen, pengakuan itu akan kehilangan daya-gunanya, sebab dia akan kehilangan rahmat yang mendukung kesaksiannya secara Kristiani. Melalui kriteria yang sama, ajaran Katekismus ini tentang kehidupan moral mendapatkan artinya yang penuh, apabila memang ditempatkan dalam keterikatannya dengan iman-kepercayaan, liturgi dan doa. T a h u n I m a n | 17 12. Maka dari itu dalam Tahun Iman itu nanti, Katekismus Gereja Katolik itu akan dipergunakan sebagai sarana bantu untuk memberikan dukungan yang nyata bagi iman-kepercayaan, terutama bagi mereka yang terkait dengan pembinaan umat kristiani, yang berada dalam saat sangat krusial dalam konteks budaya kita. Untuk maksud itu saya telah mengundang Kongregasi Untuk Ajaran Iman, dalam kesepakatan dengan Dikasteri-dikasteri Takhta Suci yang kompeten, untuk mempersiapkan sebuah Nota, yang akan memberikan arahan-arahan kepada umat beriman Gereja dan perseorangan tentang bagaimana harus menghayati Tahun Iman itu seefektif dan setepat mungkin bagi kepentingan iman-kepercayaan dan pewartaan. Dalam skala yang lebih besar dari pada di masa lampau, sekarang ini iman dihantam dengan serangkaian pertanyaan yang muncul dari suatu sikap dasar yang sudah berubah, yang, khususnya dewasa ini, bidang kepastian-kepastian rasional diberi pembatasan-pembatasan terhadap penemuan-penemuan ilmiah dan teknologi. Namun demikian, Gereja tidak pernah merasa takut untuk tetap menunjukkan, bahwa tidak mugkin ada pertentangan antara iman dan ilmu yang sejati, sebab keduanya, kendatipun jalur yang ditempuh berbeda, mengarah menuju kepada kebenaran.[22] 13. Satu hal yang akan sangat menentukan dalam tahun Iman itu adalah, bila kita menelusuri sejarah iman kita yang sebenarnya ditandai dengan misteri yang tak terkatakan dari keterjalinan antara kesucian dan dosa. Sementara yang pertama menyoroti kontribusi besar yang diprestasikan oleh laki-laki atau perempuan bagi pertumbuhan dan perkembangan persekutuan melalui kesaksian hidup mereka, yang kedua harus menantang dari setiap orang suatu kerja yang tulus dan berlanjut dari pertobatan untuk mengalami belas-kasih Bapa, yang dtawarkan kepada semua orang. Selama waktu itu kita akan harus tetap memandang Yesus Kristus, “yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada T a h u n I m a n | 18 kesempurnaan” (Ibr. 12:2): di dalam Dia, semua kekhawatiran dan semua kerinduan hati manusia mendapatkan pemenuhannya. Sukacita dari kasih, jawaban atas drama penderitaan dan kesakitan, kekuatan dari pengampunan di hadapan sebuah penghinaan yang diterima dan kemenangan hidup atas kehampaan kematian: semuanya itu mendapatkan kepenuhannya di dalam misteri inkarnasi-Nya, ketika Dia menjadi manusia, ketika Dia mengambil-bagian di dalam kelemahan manusiawi kita, sehingga semuanya itu ditransformasikan-Nya melalui kekuatan dari kebangkitan-Nya. Di dalam Dia yang telah mati lalu bangkit kembali demi keselamatan kita itu, contoh teladan iman-kepercayaan yang telah menandai dua ribu tahun sejarah keselamatan kita ini mendapatkan pencerahan yang sepenuh-penuhnya. Dengan iman, Maria menerima kata-kata Malaekat dan percaya kepada pesan bahwa dia akan menjadi Bunda Allah dalam ketaatan dari kesalehannya (bdk. Luk. 1:38). Ketika mengunjungi Elizabet, dia melambungkan madah pujiannya kepada Yang Mahatinggi karena karya ajaib yang telah dikerjakan-Nya di dalam diri mereka yang menaruh kepercayaan kepada-Nya (bdk. Luk. 1:46-55), Dengan sukacita dan kegentaran dia melahirkan anaknya yang tunggal, dengan keperawanannya yang tetap tak ternoda (bdk. Luk.2:6-7). Sambil tetap mempercayai Yusuf, suaminya, ia membawa Yesus ke Mesir untuk menyelamatkan-Nya dari pengejaran Herodes (bdk. Mat, 2:15-17). Dengan kepercayaan yang sama, ia mengikuti Tuhan dalam pewartaan-Nya dan tetap menyertai-Nya sampai ke Golgota (bdk. Yoh. 19:25-27). Dengan iman-kepercayaannya, Maria mengecap buah-buah kebangkitan Yesus dan sambil tetap menyimpan setiap kenangan di dalam hatinya (bdk. Luk. 2:19,51). Ia menyerah-alihkan itu kepada Keduabelas Rasul yang berkumpul di ruang atas untuk menerima Roh Kudus (bdk. Kis, 114-2:1-4). Dengan iman, para rasul telah meninggalkan semuanya dan mengikuti Tuhan mereka (bdk. Mat. 10:28). Mereka percaya kepada kata-kata yang diwartakan-Nya tentang Kerajaan Allah yang telah datang dan dipenuhi di T a h u n I m a n | 19 dalam diri-Nya (bdk. Luk. 11:20). Mereka hidup dalam persekutuan dengan Yesus yang membina mereka dengan ajaran-Nya, dengan mewariskan kepada mereka suatu peraturan hidup, dengan mana mereka akan dikenal sebagai murid-murid-Nya setelah kematian-Nya (bdk. Yoh. 13:34-35). Dengan iman, mereka pergi ke seluruh dunia, mengikuti perintah-Nya untuk mewartakan Kabar Gembira kepada semua ciptaan (bdk. Mrk. 16:15) dan dengan tanpa takut mereka mewartakan kepada semua orang sukacita kebangkitan, tentangnya mereka adalah saksi-saksinya yang setia. Dengan iman, para murid membentuk komunitas pertama, yang dihimpun di sekeliling ajaran para rasul, di dalam doa, di dalam perayaan Ekaristi, sambil mempertahankan kepunyaan mereka sebagai milik bersama dan dengan demikian mereka memenuhi kebutuhan saudara-saudara (bdk. Kis. 2:42-47). Dengan iman, para martir menyerahkan hidup mereka, sambil memberi kesaksian pada kebenaran Injil yang telah mengubah hidup mereka dan membuat mereka mampu mendapatkan anugerah terbesar dari cinta-kasih: yakni pengampunan kepada para penganiaya mereka. Dengan iman, pria dan wanita telah membaktikan hidup mereka di dalam Kristus, sambil meninggalkan segala sesuatu, untuk dapat hidup dalam ketaatan, kemiskinan, dan kemurnian dalam kesederhanaan injili, sebagai tanda nyata dari penantian mereka akan kedatangan Tuhan yang tidak akan tertunda. Dengan iman, tak terbilang banyaknya orang kristiani telah memajukan tindakan bagi keadilan sehingga dengan demikian mereka melaksanakan sabda Tuhan, yang datang untuk mewartakan pembebasan dari semua penindasan dan mewartakan kedatangan suatu tahun penuh kebaikan bagi semua orang (bdk. Luk. 4:18-19). T a h u n I m a n | 20 Dengan iman, sepanjang abad-abad, pria dan wanita dari segala usia, yang namanya tercatat di dalam Kitab Kehidupan (bdk.Why. 7:9; 13:8), telah mengakui keindahan hal mengikuti Tuhan Yesus kemana pun mereka dipanggil untuk memberi kesaksian pada kenyataan, bahwa mereka adalah orang-orang kristiani: di dalam keluarga, di tempat kerja, dalam kehidupan publik, dalam menjalankan kharisma dan pelayanan yang menjadi panggilan hidup mereka. Dengan iman, kita juga hidup: sambil menghayati pengakuan kita kepada Tuhan Yesus, yang hadir di dalam hidup kita dan sejarah kita. 14. Tahun Iman itu juga akan menjadi sebuah kesempatan yang bagus untuk mengintensifkan kesaksian amal-kasih, sebagaimana diingatkan oleh Santo Paulus kepada kita: “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan, dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” (Kor. 13:13) Dengan kata-kata yang lebih kuat, ‒ yang senantiasa telah menempatkan orang Kristiani di bawah kewajiban, ‒ Santo Yakobus mengatakan: “Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. Tetapi mungkin ada orang berkata: “Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan”, aku akan menjawab dia: “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.” (Yak. 2:14-18). Iman tanpa kasih tidak akan menghasilkan buah, sedang kasih tanpa iman hanya akan merupakan suatu perasaan yang senantiasa berada di bawah kuasa kebimbangan. Iman dan kasih saling membutuhkan satu sama lain, sedemikian sehingga yang satu akan membiarkan yang lain untuk tampil T a h u n I m a n | 21 menurut jalurnya sendiri-sendiri. Memang, banyak orang kristiani membaktikan hidupnya dengan kasih bagi mereka yang tersendiri, yang terpinggirkan atau yang terkucilkan, sebagaimana juga bagi mereka yang pertama-tama menuntut perhatian kita dan yang paling penting bagi kita untuk dibantu, sebab justru di dalam diri merekalah tampak cerminan wajah Kristus sendiri. Melalui iman kita dapat mengenal wajah Tuhan yang bangkit di dalam diri mereka yang meminta kasih kita. “Sesungguhnya, segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Mat. 25:40) Kata-kata ini haruslah menjadi peringatan yang tidak boleh dilupakan dan harus menjadi undangan yang menetap bagi kita untuk membalas kasih dengan mana Tuhan telah senantiasa memperhatikan kita. Imanlah yang memampukan kita mengenal Kristus dan kasih-Nyalah yang mendorong kita untuk membantu-Nya kapan saja Dia menjadi sesama yang kita jumpai dalam perjalanan hidup kita. Dikuatkan oleh iman, marilah kita memandang kepada komitmen kita di dunia ini sambiil menantikan “surga baru dan dunia baru, di mana terdapat kebenaran.” (2Ptr. 3:13; bdk. Why. 21:1) 15. Ketika sampai pada akhir hidupnya, Santo Paulus meminta Timotius muridnya untuk “mengejar iman” (lih. 2Tim. 2:22) dengan kesetiaan yang sama seperti ketika ia masih muda (bdk. 2Tim. 3:15). Kita mendengar undangan ini ditujukan juga kepada masing-masing kita, supaya jangan ada di antara kita yang menjadi malas di dalam iman. Iman yang menjadi pendamping seumur hidup inilah yang membuat kita mampu untuk memahami, setiap kali secara baru, karya-karya ajaib Tuhan bagi kita. Sambil senantiasa peka terhadap tanda-tanda jaman yang terhimpun di dalam sejarah kita di masa sekarang ini, iman itu membuat masing-masing kita sendiri menjadi tanda dari kehadiran Tuhan yang bangkit di dunia kita ini. Apa yang secara khusus dibutuhkan oleh dunia kita sekarang ini adalah kesaksian yang dapat dipercaya dari orang-orang yang mendapatkan pencerahan di dalam budi dan hatinya oleh sabda Tuhan dan kemudian T a h u n I m a n | 22 mampu membuka hati dan budi bagi banyak orang lain untuk merindukan Allah dan hidup yang sejati, hidup yang kekal abadi. “Supaya firman Tuhan beroleh kemajuan dan dimuliakan” (2Tes. 3:1): semoga Tahun Iman ini membuat hubungan kita dengan Krsitus, Tuhan, semakin bertambah kuat, karena hanya di dalam Dialah ada kepastian untuk memandang masa depan dan ada jaminan dari kasih yang sejati dan lestari. Semoga kata-kata Santo Petrus ini akan dapat memberikan seberkas pencahayaan yang terakhir atas iman ini: “Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu — yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api — sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya. Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.” (1Ptr. 1:6-9) Hidup umat kristiani mengenal baik pengalaman sukacita maupun pengalaman penderitaan. Betapa banyak orang-orang kudus yang hidup di dalam kesunyian. Betapa banyak umat beriman, juga sampai pada hari ini, yang merasa dicobai oleh sikap diam Allah, sementara mereka ingin mendengarkan suara-Nya yang menghibur. Percobaan-percobaan hidup, sementara hal itu memang membantu kita untuk memahami misteri salib dan turut mengambil-bagian dalam penderitaan Kristus (bdk. Kol. 1:24), menjadi juga suatu pendahuluan kepada sukacita dan harapan ke mana iman juga mengarahkan: “jika aku lemah, maka aku kuat.” (2Kor. 12:10) Kita percaya dengan kepastian yang kokoh bahwa Tuhan Yesus telah mengalahkan kejahatan dan kematian. Dengan kepercayaan yang pasti ini kita mempercayakan diri kita kepada-Nya: Dia, yang hadir di tengah-tengah kita, mengalahkan kekuatan si jahat itu (bdk. Luk. 11:20) dan Gereja, T a h u n I m a n | 23 persekutuan belas-kasih-Nya yang tampak, tinggal di dalam Dia sebagai suatu tanda rekonsiliasi yang definitif dengan Bapa. Marilah kita mempercayakan waktu penuh rahmat ini kepada Bunda Allah, yang diwartakan sebagai yang “berbahagialah ia, yang telah percaya.“ (Luk. 1:45) Dikeluarkan di Roma, dari Basilika Santo Petrus, pada tanggal 11 Oktober 2011, tahun kepausan saya yang ke tujuh. PAUS BENEDIKTUS XVI Catatan Kaki: [1] Homili pada awal menjabat sebagai Uskup Roma dalam pelayanan sebagai pengganti Petrus (24 April 2005):AAS 97 (2005), 710. [2]Lih. Benedictus XVI, Homili dalam Misa “Terreiro do Paço” di Lisabon, (11 Mai 2010); Insegnamenti VI: 1 (2010), 673. [3] Lih. Joannes Paulus II, Konstitusi Apostolik Fidei Depositum (11 Oktober 1992): AAS 86 (1994), 113-118. [4] Lih. Laporan terakhir Sinode Luar Biasa II Para Uskup (7 Desember 1985), II, B, a, 4 in Enchiridion Vaticanum, ix, n. 1797. [5] Paulus VI, Ekshortasi Apostolik Petrum et Paulum Apostolos pada perayaan XIX abad kemartiran St Petrus dan Paulus (22 Februari 1967): AAS 59 (1967), 196. [6] Ibid., 198. [7] Paulus VI, Credo Umat Allah, Homilidalam Misa pada perayaan XIX abad kemartiran St Petrus dan Paulus pada penutupan “Tahun Iman” (30 Juni 1968): AAS60 (1968), 433-445. [8] PaulusVI, Audiensi Umum (14 Juni 1967): Insegnamenti V (1967), 801. T a h u n I m a n | 24 [9] Joannes Paulus II, Surat Apostolik Novo Millennio Ineunte (6 Januari 2001), 57: AAS 93 (2001), 308 [10] Sambutan kepada Curia Romana, (22 Desember 2005): AAS 98 (2006), 52. [11] Konsili Ekumenis Vatikan II, Konstiotusi Dogmatis tentang Gereja Lumen Gentium, 8. [12] De Utilitate Credendi, I:2. [13] Konsili Ekumenis Vatikan II, Konstitusi tentang Lityurgi Suci Sacrosanctum Concilium, 10. [14] KOnsili Ekumenis Vatikan II, Konstitusi tentang Liturgi Suci Sacrosanctum Concilium, 10. [15] Lih.. Joannes Paulus II, Konstitusi Apostolik Fidei Depositum (11 Oktober 1992): AAS 86 (1994), 116. [16] Sermo 215:1. [17]Katekismus Gereja Katolik, 167. [18] Lih.Konsili ekumenis Vatikan I, Konstitusi Dogmatis tentang Iman Katolik, Dei Filius, Bab. III: DS 3008-3009: Konsili ekumenis Vatikan II, Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi Dei Verbum, 5. [19] Benediktus XVI, Sambutan di Collège des Bernardins, Paris (12 September 2008): AAS100 (2008), 722. [20] Lih.. Santo Augustinus, Confessions, XIII:1. [21] Joannes Paulus II, Konstitusi Apostolik Fidei Depositum (11 Oktober 1992): AAS 86 (1994), 115 dan 117. [22] Lih. Joannes Paulus II, Ensiklik Fides et Ratio (14 September 1998), 34, 106: AAS 91 (1999), 31-32, 86-87. T a h u n I m a n | 25 RINGKASAN PETUNJUK-PETUNJUK PASTORAL UNTUK TAHUN IMAN oleh Kongregasi Ajaran Iman Pada tanggal 6 Januari 2012 Kongregasi Ajaran Iman, dengan Nota Pastoral, telah menyampaikan beberapa usulan, anjuran, dan petunjuk untuk mengisi Tahun Iman di tingkat Konferensi para Uskup, keuskupan, paroki, hidup bakti, serta gerakan-gerakan gerejani. Tahun Iman ini adalah kesempatan penuh rahmat agar umat kristiani-katolik sungguh menyadari dan menyelami, bahwa iman itu adalah perjumpaan dengan Pribadi Yesus Kristus yang sudah bangkit; Dialah yang memberi cakrawala baru serta arah hidup yang menentukan. Di jaman kita ini juga, "iman adalah anugerah yang perlu ditemukan kembali, dipelihara dan dinyatakan dalam kesaksian” (n.2). Kiranya Tuhan memberi kepada kita masing-masing penghayatan yang indah dan menggembirakan sebagai orang beriman kristiani. Petunjuk-petunjuk untuk merayakan Tahun Iman ini bertujuan untuk mendukung perjumpaan dengan Yesus Kristus melalui saksi, pewarta, evangelis iman yang otentik, serta pengetahuan yang benar mengenai inti ajaran iman katolik. Diharapkan juga agar penghayatan iman yang penuh kegembiraan mendukung peneguhan persatuan dan kesatuan antara kelompok-kelompok yang masuk dalam Gereja Kristus. A. TINGKAT GEREJA UNIVERSAL 1. Sidang Agung ke-13, yaitu Sinode para Uskup dengan fokus utama: EVANGELISASI BARU UNTUK MENERUSKAN PEWARTAAN IMAN KRISTIANI. Sinode Agung ini dimulai pada tanggal 11 Oktober 2012 dan sekaligus secara resmi merupakan pembukaan Tahun Iman. Hendaknya umat mendukung dengan doa. T a h u n I m a n | 26 2. Baik juga bila memungkinkan dilaksanakan peziarahan ke Tahta Suci Santo Petrus serta memperbaharui iman kepada Allah Tritunggal: Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Demikian juga didorong peziarahan ke Tanah Suci. 3. Berziarah ke tempat penampakan Bunda Maria atau tempat berkaitan Bunda tersuci di daerah masing-masing. Dalam Tahun Iman ini, umat kristiani hendaknya memandang Bunda Maria - citra Gereja - yang menyatukan dalam DIRINYA perwujudan iman, dengan memahami peranan Bunda Maria dalam karya keselamatan, mencintaiNya khususnya melalui peziarahan dan perayaan di tempat yang telah disucikanNya. 4. Diharapkan Hari Kaum Muda Katolik sedunia di Rio de Janeiro pada Juli 2013 akan memberi kesempatan kepada kaum muda katolik untuk mengalami kegembiraan yang berasal dari iman kepada Yesus Kristus dalam persekutuan dengan seluruh Gereja Katolik. 5. Hendaknya diadakan sejenis simposium, seminar, dan pertemuan-pertemuan tingkat internasional yang mendukung kesaksian iman sejati dan pengetahuan ajaran iman katolik. Dengan demikian nyatalah bahwa Sabda ilahi pada jaman kita ini berkembang dan mampu memberi kesaksian; hendaknya iman menjadi standar dan nilai terhadap ilmu dan karya bagi seluruh hidup manusia. 6. Diharapkan juga digiatkan studi untuk memahami dan menyelami ajaran iman katolik yang telah disampaikan melalui Konsili Vatikan II dan Katekismus Gereja Katolik. 7. Hal yang sama diharapkan dapat direncanakan bagi para seminaris pada awal tahun propedeutik (persiapan) dan dalam studi teologi, untuk para imam, para novis pria dan wanita dan bagi mereka yang menghayati hidup bakti serta gerakan-gerakan gerejani. Kepada mereka yang menghayati hidup bertapa, rahib, dan rubiah dianjurkan doa khusus. 8. Dalam Tahun Iman, hendaknya kita bekerjasama dengan Komisi Kepausan Bagi Kesatuan antar Umat Kristiani. Oleh sébab itu diharapkan juga kegiatan dalam bentuk ekumenis karena salah satu T a h u n I m a n | 27 intensi dari Konsili Ekumene Vatikan II adalah pemulihan kesatuan tersebut untuk bersama-sama mengungkapkan iman yang sama antara semua umat yang telah dibabtis. 9. Untuk seluruh kegiatani ini hendaknya dibentuk sebuah Sekretariat yang mengkoordinasi seluruh inisiatif dari pelbagai Dikasteri. Akan disediakan pula sebuah situs internet khusus yang menyediakan pelbagai informasi terkait Tahun Iman ini. 10. Penutupan Tahun Iman akan dirayakan pada Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam, tgl 24 November 2013, dengan perayaan Ekaristi dan pembaharuan iman katolik/Credo. B. TINGKAT KONFERENSI PARA USKUP 1. Hendaknya para konferensi merencanakan suatu hari khusus tentang iman, kesaksian pribadi, dan gaya pewartaan bagi bagi kaum muda, karena para uskup adalah guru dan bentara iman. 2. Sangat berguna bila diterbitkan kembali dokumen-dokumen Konsili Vatikan II, Katekismus Gereja Katolik, dan Kompendium dalam bentuk saku, serta membahas tema yang penting dan mendesak menyangkut problem-problem kaum muda. Dalam hal ini diminta memanfaatkan alat teknologi komunikasi dan elektronik. 3. Dapat diusahakan penerjemahan dokumen dalam bahasa-bahasa mana pun dan diusahakan juga dana untuk mewujudkan hal tersebut. Semua ini di bawah pengawasan Konsilium/tim evangelisasi bangsa-bangsa. 4. Para gembala umat dapat mengusahakan penggunaan fasilitas teknologi komunikasi, TV, radio, film, untuk mengenalkan hal-hal mengenai iman, ajaran, dan makna gerejani Konsili Vatikan II bagi publik secara lebih luas. 5. Para kudus dan beatus merupakan saksi sejati iman. Oleh sebab itu, hendaknya diberi kesempatan agar mereka diperkenalkan di daerah asal masing-masing dengan memanfaatkan pula alat komunikasi modern. T a h u n I m a n | 28 6. Hendaknya karya seni berupa bangunan, lukisan, dan lain-lain yang terdapat di daerah konferensi para uskup dilindungi dan dipelihara karena karya seni dapat menjadi sarana katekese yang potensial. 7. Di sekolah tinggi teologi, seminari, dan universitas katolik, para dosen melalui ajaran masing-masing hendaknya diajak untuk membuktikan relevansi/pengaruh isi Katekismus Gereja Katolik beserta implikasinya dalam pelbagai mata kuliah yang mereka ajarkan. 8. Dengan kerjasama antara para teolog dan para pengarang hendaknya dibuat bahan atau selebaran apologetis dengan isi yang dapat dipercaya untuk disebarkan secara luas. Harapannya agar setiap orang beriman dapat menemukan jawaban yang lebih baik atas pelbagai persoalan iman yang dihadapinya dalam banyak kesempatan, misalnya dalam sekte-sekte yang muncul, terhadap masalah sekularisme, relatisme, dan pertanyaan yang berasal dari budaya dan kemajuan ilmu serta kesulitan beraneka ragam lainnya. 9. Sangat diharapkan agar segala pengajaran, bahan-bahan katekese di tingkat lokal selalu disesuaikan dengan ajaran Katekismus Gereja Katolik atau menggunakan katekismus-katekismus yang sudah diterbitkan di salah satu konferensi para uskup, untuk saling melengkapi, bila perlu. 10. Dengan kerjasama dengan Kongregasi Pendidikan Katolik hendaknya diteliti sampai sejauh mana isi Katekismus Gereja Katolik telah diperhatikan dalam Ratio Studiorum bagi para calon imam dan dalam kurilulum teologi. C. TINGKAT KEUSKUPAN 1. Hendaknya pembukaan dan penutupan Tahun Iman dirayakan secara meriah di setiap Gereja setempat (katedral) untuk mengakui iman akan Yesus Kristus yang sudah bangkit. 2. Dirasa penting agar setiap keuskupan mengadakan satu hari studi khusus untuk membahas Katekismus Gereja Katolik, terutama bagi para imam, biarawan-biarawati, dan para katekis. Dalam kesempatan ini, baik bila T a h u n I m a n | 29 mereka diajak untuk menemukan kembali kegembiraan yang diperoleh berkat iman, lebih-lebih di mana terdapat Gereja muda — daerah misi. 3. Hendaknya setiap Uskup mengeluarkan surat gembala bertemakan iman dengan mengingatkan kembali peranan besar Konsili Vatikan II dan Katekismus Gereja Katolik, sambil tetap memperhatikan keistimewaan dan kebutuhan setempat yang ditemukan di tengah umatnya. 4. Diharapkan agar di setiap keuskupan direncanakan pertemuan-pertemuan tentang katekese yang ditujukan kepada kaum muda atau kepada mereka yang mau mencari arah hidup untuk menemukan keindahan panggilan iman gerejani serta menggalakkan pertemuan yang berisi kesaksian iman yang penuh makna. Semua ini hendaknya selalu berada di bawah pengawasan Uskup. 5. Diharapkan dapat dilihat kembali sampai sejauh mana ajaran Konsili Vatikan II dan Katekismus Gereja Katolik telah diterima dan dihayati dalam hidup dan misi Gereja setempat dan demi peningkatan peranan seksi katekese dalam keuskupan yang bertanggung jawab atas pendidikan para katekis mengenai inti ajaran iman. 6. Materi kegiatan bina lanjut bagi para klerus selama Tahun Iman ini dapat difokuskan pada dokumen Konsili Vatikan II dan Katekismus Gereja Katolik, dengan membahas tema-tema misalnya: "pewartaan akan Kristus yang sudah bangkit"; "Gereja sebagai sakramen keselamatan"; "misi pewartaan/evangelisasi di dunia sekarang ini"; "iman dan mereka yang tidak percaya"; "iman, ekumenisme, dan dialog antar agama"; "iman dan hidup kekal"; "hermeneutika tentang pembaharuan yang berkesinambungan"; "Katekismus dalam kepedulian pastoral". 7. Para Uskup diajak, khususnya pada masa prapaska, merencanakan perayaan tobat untuk memohon pengampunan kepada Allah, khususnya atas dosa-dosa melawan iman. Dalam Tahun Iman ini hendaknya imat diberi kesempatan untuk menerima Sakramen Pengampunan dengan penuh kesadaran dan secara lebih rutin. 8. Hendaknya dunia akademik dan budaya dilibatkan demi peningkatan dialog yang kreatif antara fides et ratio (iman dan akal) melalui seminar, T a h u n I m a n | 30 pertemuan, atau hari studi khususnya di pelbagai universitas katolik, untuk menunjukkan bahwa antara iman dan ilmu yang sejati tidak ada pertentangan karena keduanya, meskipun melalui jalan yang berbeda, terarah kepada Kebenaran — Veritas. 9. Dianggap penting untuk merencanakan pertemuan-pertemuan dengan mereka yang, walaupun tidak menyatakan secara eksplisit memiliki karunia iman, namun memiliki usaha/tingkah yang jujur untuk mencari kebenaran dan nilai akhir tentang hidup mereka dan tentang dunia. 10. Tahun Iman ini juga menjadi kesempatajn untuk lebih mempedulikan sekolah-sekolah katolik, yang merupakan tempat yang tepat untuk memberi kesaksian hidup tentang Tuhan kepada para murid dan untuk memelihara iman mereka. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan sarana katekese yang baik, misalnya: Kompendium Katekismus Gereja Katolik dan Youcat (Katekismus untuk Orang Muda). D. TINGKAT PAROKI / KOMUNITAS / KELOMPOK / GERAKAN GEREJANI- 1. Diperkenalkan kepada umat surat kepausan mengenai Tahun Iman, Porta Fidei. 2. Meningkatkan perayaan iman dalam liturgi, secara khusus melalui sakramen Ekaristi. Dalam perayaan Ekaristilah misteri iman, sumber evangelisasi baru, yaitu iman Gereja diwartakan, dirayakan, dan dikuatkan. Semua umat beriman hendaknya diajak untuk berpartisipasi dalam perayaan Ekaristi dengan lebih aktif, berbuah, dan penuh kesadaran, sehingga mereka menjadi saksi-saksi sejati akan Allah. 3. Para imam hendaknya menaruh perhatian lebih pada studi tentang Dokumen Konsili Vatikan II dan Katekismus Gereja Katolik dan mengambil bahan-bahan pastoral, katekese, homili, dan persiapan pelayanan sakramental darinya. Bahan-bahan homili kiranya juga menekankan aspek pokok iman, seperti: “perjumpoaan dengan Kristus”, “isi fundamental iman”, serta ”iman dan gereja”. T a h u n I m a n | 31 4. Para katekis hendaknya berpegang teguh pada materi ajaran Katekismus Gereja Katolik di bawah bimbingan para pastor. Mereka dapat mengadakan pertemuan kelompok umat beriman, saling bekerjasama untuk memperdalam pemahaman iman sehingga terbentuklah komunitas-komunitas iman yang bersaksi tentangnya. 5. Kiranya setiap paroki ada isaha untuk membagikan Katekismus Gereja Katolik atau Kompendium dan biku lain yang sesuai untuk keluarga, karena keluarga adalah gereja kecil dan tempat utama pewarisan iman. Hal ini bisa dilakukan dalam pelbagai kesempatan, seperti: pemberkatan rumah, baptisan dewasa, penerimaan krisma dan perkawinan. 6. Pengenalan akan pentingngya misi dan program-program populer lain di paroki dan di tempat bekerja kiranya dapat membantu umat beriman untuk menemukan kembali anugerah iman yang diterima ketika baptisan dan tugas untuk menjadi saksi iman dengan menyadari hakekat panggilan orang kristen sebagai rasul. 7. Selama masa ini, para anggota Tarekat Hidup Bakti dan Komunitas Karya Kerasulan hendaknya diajak untuk berkarya bagi karya evangelisasi baru dengan semangat persatuan pada Tuhan Yesus yang senantiasa diperbaharui pula, masing-masing menuurut karismanya, dengan kesetiaan pada Bapa Suci dan ajaran iman. 8. Komunitas kontemplatif selama masa ini hendaknya berdoa dengan lebih intensif terutama bagi pembaharuan iman di antara Umat Allah dan bagi dorongan baru yang mendukung penerusan iman di kalangan orang muda. 9. Kelompok dan gerakan-gerakan gerejani lain juga diajak untuk mengambil inisiatif keterlibatan selama Tahun Iman ini, masing-masing dengan karismanya sendiri dan dalam kerjasama dengan para pastornya. Kelompok dan Gerakan gerejani yang baru kiranya dapat pula menemukan cara-cara baru untuk memberikan kesaksian iman mereka secara kreatif dan murah hati. 10. Seluruh umat beriman, yang dipanggil untuk memperbaharui karunia iman, hendaknya berusaha mengkomunikasikan pengalaman iman dan T a h u n I m a n | 32 kasih mereka dengan saudara-saudara yang beragama lain, dengan mereka yang tidak beriman, dan dengan mereka yang bahkan tidak peduli dengan iman. Dengan cara itu kita berharap bahwa seluruh umat kristiani akan memulai suatu bentuk perutusan kepada siapa pun mereka hidup dan berkarya, dengan kesadaran bahwa mereka telah menyambut kabar keselamatan yang ditawarkan bagi setiap orang E. PENUTUP Iman adalah teman hidup yang memampukan kita menangkap, juga hal-hal baru, keindahan yang dilakukan Allah bagi kita. Dengan mencermati tanda-tanda jaman dalam kekinian sejarah, iman itu menuntut kita semua untuk menjadi tanda hidup bagi kehadiran Tuhan yang telah bangkit di dunia ini. Iman itu menyangkut baik tindakan pribadi maupun komunal: iman adalah karunia ilahi yang harus dihayati dalam persatuan dengan Gereja dan harus dikomunikasikan kepada dunia. Setiap kegiatan dalam Tahun Iman hendaknya diarahkan untuk membantu penemuan kembali yang menggembirakan atas iman dan penerusannya yang senantiasa diperbaharui. Petunjuk yang telah kami sajikan ini bertujuan untuk mengajak semua anggota Gereja melibatkan diri agar Tahun Iman ini menjadi kesempatan yang istimewa untuk membagikan apa yang kita anggap bernilai tinggi: Kristus Yesus, Penebus umat manusia, Raja semesta alam, "pemimpin dan penyempurna iman" (Ibr : 12 : 2). Dikeluarkan di Roma, Kongregasi untuk Ajaran Iman, 6 Januari 2012, pada Hari Raya Penampakan Tuhan. William Cardinal Levada Luis F. Ladaria Ketua Sekretaris
Surat Gembala Tahun Iman Bagi Umat Katolik Keuskupan Surabaya (Dibacakan di semua gereja dan kapel di seluruh wilayah Keuskupan Surabaya, tanggal 6-7 atau 13-14 Oktober 2012) Para Saudara terkasih, Bapa Suci Paus Benediktus XVI, melalui Surat Apostolik dengan judul “Porta Fidei” (Pintu Kepada Iman), telah mencanangkan Tahun Iman, yang akan dimulai pada tanggal 11 Oktober 2012 dan akan ditutup pada Hari Raya Tuhan kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam pada tanggal 24 November 2013. Perayaan Tahun Iman ini berkaitan dengan peringatan 50 tahun Pembukaan Konsili Vatikan II dan 20 tahun sejak penerbitan buku Katekismus Gereja Katolik terbaru. Untuk Keuskupan Surabaya, saya akan membukanya dengan perayaan Ekaristi pada tanggal 18 Oktober 2012 di Gua Maria Lourdes Puhsarang - Kediri, pukul 23.00 WIB. Dalam Surat Apostolik tersebut Bapa Suci mengharapkan agar karunia iman yang telah kita peroleh berkat sakramen baptis sungguh dapat memberikan kekuatan dan pembaharuan nyata dalam hidup. Oleh karena itu, melalui Surat Gembala ini saya ingin menyapa para imam, biarawan-biarawati, katekis, para pengurus Gereja dan seluruh umat Allah di Keuskupan Surabaya ini, agar memberi perhatian khusus akan pentingnya iman bagi kehidupan, dan agar mengisi Tahun Iman ini dengan pelbagai kegiatan yang diadakan di tempat masing-masing di tingkat kevikepan, paroki, wilayah, lingkungan, stasi, maupun juga di kelompok-kelompok kategorial. Tahun Iman akan sungguh menjadi saat berahmat bila kita mengisi tahun ini dengan: memperdalam, mempelajari, merayakan, dan menghayati iman yang benar dalam kehidupan nyata. Sumber iman kita adalah Kitab Suci dan Tradisi penerusan iman oleh kuasa mengajar Gereja (Magisterium). Dalam hal ini, Bapa Suci mengingatkan bahwa Katekismus Gereja Katolik T a h u n I m a n | 2 merupakan salah satu buah Konsili Vatikan II sebagai sumber pengajaran iman yang resmi dan benar. Iman adalah tanggapan pribadi dan perjumpaan dengan Allah yang mewahyukan diri dalam pribadi Yesus Kristus yang sudah bangkit. Dari perjumpaan pribadi tersebut kita didorong untuk memahami isi pengakuan iman-kepercayaan yang benar dan meneruskannya kepada generasi yang akan datang. Saat ini kita menghadapi dua krisis dalam hal iman: kehilangan identitas kekatolikan dan selanjutnya bahaya kehilangan iman. Hal ini ditandai dengan maraknya trend 'jajan rohani' di tengah aneka aliran kerohanian serta relativisme keyakinan yang bisa mengaburkan identitas dan otentisitas iman Katolik sebagaimana diwariskan para Rasul. Gereja Katolik sesungguhnya penuh dengan kekayaan kebenaran ilahi, namun seringkali kita kurang menggali dan merasakan betapa sedapnya dihidupi oleh Sabda Allah dan Roti Kehidupan, serta khazanah Ajaran Gereja ini. Maka tepatlah seruan Paus, bahwa di jaman kita ini: “iman adalah anugerah yang perlu ditemukan kembali, dipelihara dan dinyatakan dalam kesaksian”. Jikalau tidak demikian, kita berada dalam bahaya kehilangan iman. Manusia dibenarkan karena iman (Rm 3:28) namun iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong (bdk. Yak 2:20.24). Iman membuat kita menjadi tanda nyata atas kehadiran Tuhan yang menyelamatkan jikalau diwujudkan dalam kesaksian hidup. Orang zaman sekarang membutuhkan kesaksian yang dapat dipercaya dari mereka yang mendapatkan pencerahan di dalam budi dan hatinya oleh Sabda Tuhan, sekaligus kesaksian yang mampu membuka hati dan budi banyak orang umtuk merindukan Allah serta kehidupan sejati. Untuk menghidupkan, memperdalam, dan menguatkan iman agar menjadi subur dan menghasilkan buah berlimpah, perlulah pendalaman Kitab Suci dan Ajaran Gereja, perayaan liturgi, serta kesaksian hidup yang nyata. Pengakuan iman selayaknya diikuti dengan penerimaan kehidupan T a h u n I m a n | 3 sakramental, dalam mana Kristus hadir, bertindak, dan terus membangun Gereja-Nya. Tanpa liturgi dan sakramen-sakramen, pengakuan iman akan kehilangan daya gunanya, sebab ia akan kehilangan rahmat yang mendukung kesaksian Kristiani. Dalam hal ini, katekese memiliki peranan sentral. Sarana pokok katekese yang tak tergantikan agar kita sampai pada pemahaman sistematis akan iman yang benar adalah Katekismus Gereja Katolik. Apakah kita sudah cukup mengenal dan mendalami Katekismus Gereja Katolik ini, sekurang-kurangnya ringkasannya dalam Kompendium Katekismus Gereja Katolik? Apakah kita sudah memelihara anugerah iman ini dan mewartakannya? Konsili Vatikan II telah membangkitkan kesadaran baru tentang arti dan peran Kitab Suci dalam kehidupan iman Gereja. Gereja telah melihat kembali dirinya melalui Kitab Suci. Demikianlah, Sabda Allah itu menjadi “penopang dan keteguhan Gereja” serta “kekuatan iman, santapan jiwa, sumber murni dan abadi dari hidup rohani bagi putera-puteri Gereja” (DV 21). Sabda Allah merupakan sarana untuk memupuk iman, sehingga iman kita bertumbuh, berkembang, dan berbuah, serta kita dapat bertahan dalam iman sampai akhir (lih. KGK no. 162). Hal ini sungguh relevan bagi kita, mengingat bahwa fokus pastoral Keuskupan Surabaya pada tahun 2013 adalah: Kitab Suci dan Orang Muda Katolik (OMK). Kita melihat bahwa Sabda Allah adalah sumber iman, sedangkan Orang Muda adalah generasi penerus iman. Dalam konteks orang muda sebagai generasi penerus iman, perlulah kita memberi kesempatan kepada Orang Muda Katolik untuk mengalami kegembiraan yang berasal dari iman kepada Yesus Kristus dalam persekutuan dengan seluruh Gereja Katolik. Kita perlu mengusahakan pertemuan katekese untuk Orang Muda Katolik, sehingga mereka menemukan kebanggaan beriman Katolik dan menjadi saksi iman di tengah masyarakat. Umat Allah yang terkasih, pada kesempatan ini, saya mengajak Anda untuk juga memberikan perhatian pada sekolah dan perguruan tinggi Katolik. Di tempat inilah kekayaan iman Gereja hadir secara nyata di tengah T a h u n I m a n | 4 masyarakat. Maka hendaklah kita memelihara iman insan Katolik di dalamnya dengan menggunakan Katekismus Gereja Katolik sebagai referensi utama pengajaran iman. Saya berharap agar seluruh umat Allah di Keuskupan Surabaya sungguh terlibat dalam mengisi Tahun Iman ini. Hendaknya para imam, biarawan-biarawati, katekis, guru agama, pengurus DPP-BGKP, serta kelompok-kelompok kategorial menjadikan Tahun Iman ini sebagai sebuah gerakan bersama. Kita semua mengambil bagian secara aktif, memperdalam pengetahuan tentang dokumen Konsili Vatikan II dan Katekismus Gereja Katolik, menyegarkan kembali tugas dan tanggung jawab serta ketrampilan dalam berkatekese, dan membangun kesadaran sebagai saksi iman yang sejati. Secara khusus saya mengingatkan para imam untuk mengajar para katekumen, memberikan pendalaman iman bagi umat, lebih intensif dalam pelayanan sakramen, serta mendalami kembali dokumen-dokumen Ajaran Gereja. Akhirnya, marilah kita mempercayakan saat berahmat ini kepada Bunda Maria, yang diwartakan sebagai yang berbahagia karena telah percaya (Luk 1:45). Semoga melalui doa dan perlindungannya, kita pun sampai pada kepenuhan hidup iman. Surabaya, 1 Oktober 2012 Pesta St. Theresia dari kanak-kanak Yesus Berkat Tuhan, Msgr. Vincentius Sutikno Wisaksono Uskup Keuskupan Surabaya T a h u n I m a n | 5 SURAT APOSTOLIK YANG DITERBITKAN SEBAGAI “MOTU PROPRIO” “PINTU KEPADA IMAN” DARI BAPA SUCI BENEDIKTUS XVI UNTUK MENCANANGKAN TAHUN IMAN (11 Oktober 2012 – 24 November 2013) 1. “Pintu kepada Iman” (Kis. 14:27), yang mengantar kita ke dalam persekutuan hidup dengan Allah dan yang membawa kita masuk ke dalam Gereja-Nya, senantiasa terbuka bagi kita. Mungkinlah bagi kita untuk melintasi ambang pintu ini apabila Sabda Allah diwartakan dan hati manusia membiarkan dirinya dibentuk oleh rahmat yang senantiasa mampu mengubah. Memasuki pintu gerbang itu berarti memulai suatu perjalanan yang akan berlangsung seumur hidup. Hal ini dimulai dengan baptisan (bdk. Rom. 6:4), dengan mana kita dapat menyebut Allah sebagai Bapa kita, dan perjalanan itu akan berakhir dengan kematian yang memasukkan kita ke dalam kehidupan kekal, buah kebangkitan Tuhan Yesus, yang dengan anugerah Roh Kudus, memang berkehendak menarik semua orang yang percaya kepada-Nya untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya (bdk. Yoh. 17:22). Beriman kepada Tritunggal – Bapa, Putra, dan Roh Kudus – berarti percaya kepada Allah yang MahaEsa yang adalah kasih (bdk. 1 Yoh. 4:8): Bapa, yang dalam kepenuhan waktu telah mengutus Putra-Nya demi keselamatan kita; Yesus Kristus, yang melalui misteri wafat dan kebangkitan-Nya telah menebus dunia; Roh Kudus, yang membimbing Gereja mengarungi jaman sambil menantikan kedatangan Tuhan kembali dalam kemuliaan. T a h u n I m a n | 6 2. Sejak mulai memangku jabatan sebagai Pengganti Petrus, saya telah mengingatkan tentang perlunya menemukan kembali perjalanan iman kita itu. Hal ini dimaksudkan untuk menampakkan dengan lebih jelas kegembiraan dan semangat yang diperbarui karena perjumpaan kita dengan Kristus. Dalam homili Misa Kudus untuk mengawali masa pontifikal, saya mengatakan: “Gereja, secara keseluruhan, bersama dengan semua pastornya, seperti Kristus, harus bergerak, untuk membimbing umat keluar dari padang gurun, menuju ke tempat kehidupan, ke dalam persahabatan dengan Putra Allah, kepada Dia, Sang Pemberi kehidupan, bahkan kehidupan yang berkelimpahan”.[1] Sering sekali terjadi, bahwa Umat Kristiani lebih menaruh perhatian kepada konsekuensi-konsekuensi sosial, budaya, dan politis dari kesibukan tugas mereka, dengan menganggap bahwa iman akan tampak jelas dengan sendirinya dalam hidup bermasyarakat. Kenyataannya, bukan saja anggapan semacam ini masih berlaku seperti dahulu, tetapi cukup sering secara terang-terangan iman itu kini diingkari.[2] Jika dahulu sangat mungkinlah orang dapat mengenali jalinan kebudayaan yang mempersatukan, di mana isi iman dan nilai-nilai yang diinspirasikan olehnya dapat diterima secara luas di dalamnya, sekarang situasi seperti itu tidak terjadi lagi dalam banyak kelompok kemasyarakatan, sebagai akibat dari krisis iman mendalam yang dialami oleh banyak orang. 3. Kita tidak dapat menerima bahwa garam menjadi tawar atau bahwa pelita ditaruh di bawah gantang (lih. Mat. 5:13-16). Orang jaman sekarang pun masih bisa merasakan kebutuhan pergi ke sumur, seperti wanita Samaria, untuk mendengarkan Yesus, yang mengundang kita agar percaya kepada-Nya serta menimba air hidup dari sumber yang memancar keluar dari dalam diri-Nya (lih. Yoh. 4:14). Kita harus menemukan kembali bagaimana sedapnya dihidupi oleh sabda Allah yang telah diteruskan oleh Gereja dengan setia, dan oleh roti kehidupan yang telah diserahkan bagi kehidupan para murid-Nya (bdk. Yoh. 6:51). Sungguh, pada jaman ini pun ajaran Yesus masih tetap bergema kuat: “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal.” (Yoh. T a h u n I m a n | 7 6:27) Bahkan pertanyaan yang kita ajukan sekarang pun masih sama dengan pertanyaan yang diajukan oleh para pendengar pada waktu itu: “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?” (Yoh. 6:28) Kita pun tahu jawaban Yesus: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah." (Yoh. 6:29) Maka percaya kepada Yesus Kristus adalah jalan untuk sampai dengan pasti kepada keselamatan. 4. Atas dasar itu semua maka saya telah mengambil keputusan untuk mencanangkan suatu Tahun Iman. Tahun itu akan dimulai pada tanggal 11 Oktober 2012, yakni hari ulang tahun kelimapuluh pembukaan Konsili Vatikan II, dan akan ditutup pada Hari Raya Tuhan kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam, pada tanggal 24 November 2013. Tanggal yang mengawali Tahun Iman itu, 11 Oktober 2012, merupakan juga hari ulang tahun keduapuluh publikasi buku Katekismus Gereja Katolik, sebuah naskah yang sudah dipromulgasikan oleh pendahulu saya, Beato Yohanes Paulus II[3], dengan maksud untuk memberikan gambaran tentang kekuatan dan keindahan iman-kepercayaan kita kepada segenap umat beriman. Dokumen tersebut, buah otentik Konsili Vatikan II, telah diminta oleh Sinode Luar-biasa Para Uskup pada tahun 1985 untuk dijadikan sarana-bantu bagi pelayanan katekese[4] dan telah diterbitkan dalam kerja-sama dengan semua Uskup dalam Gereja Katolik. Tambahan pula, tema Sidang Umum Sinode Para Uskup yang telah saya undang untuk bulan Oktober 2012 yang akan datang ini adalah: “Evangelisasi Baru Bagi Penerusan Iman Kristiani.” Hal itu akan menjadi kesempatan baik untuk menghantar masuk segenap Gereja ke dalam suatu masa refleksi khusus dan menemukan kembali iman-kepercayaannya. Ini bukan yang pertama kalinya Gereja dipanggil untuk merayakan suatu Tahun Iman. Pendahulu saya yang Mulia Hamba Tuhan Paus Paulus VI pernah memaklumkan hal yang sama pada tahun 1976, untuk memperingati kemartiran santo Petrus dan Santo Paulus pada peringatan sembilan belas abad tindakan kesaksian mereka yang paling T a h u n I m a n | 8 luhur. Menurut hemat Beliau, itulah saat yang paling mulia agar dalam seluruh Gereja terwujud “suatu pengakuan yang otentik dan tulus akan iman-kepercayaan yang sama.” Apalagi beliau menghendaki bahwa pengakuan itu dikuatkan lagi dengan cara “pribadi maupun bersama-sama, bebas namun bertanggngjawab, baik lahir maupun batin, rendah hati dan berterus-terang”[5]. Beliau berpendapat, bahwa dengan cara demikian seluruh Gereja dapat memulihkan kembali “pemahaman yang tepat atas iman-kepercayaan itu, untuk menguatkannya, memurnikannya, meneguhkannya, dan mengakuinya”[6]. Perayaan besar-besaran Tahun itu semakin menunjukkan betapa umat memang membutuhkan perayaan semacam itu. Perayaan tersebut diakhiri dengan Pengakuan Iman Umat Allah[7] untuk menunjukkan: betapa muatan hakiki iman itu yang selama berabad-abad telah membentuk warisan segenap orang beriman, perlu ditegaskan, dipahami, dan digali lagi dengan cara yang selalu baru, supaya kesaksian iman itu tetap konsisten dalam berbagai kondisi historis yang berbeda sekali dari masa lampau. 5. Dalam arti tertentu, Yang Mulia Pendahulu saya itu melihat Tahun Iman sebagai suatu “konsekuensi dan kebutuhan masa pascakonsili”[8], sambil menyadari sepenuhnya pelbagai kesulitan berat masa itu, terutama kesulitan yang berkaitan dengan pengakuan iman sejati dan penafsirannya yang benar. Menurut saya, saat pencanangan Tahun Iman yang bertepatan dengan ulang tahun kelimapuluh pembukaan Konsili Vatikan II ini dapat menjadi kesempatan yang tepat untuk memahami, bahwa naskah-naskah yang telah diwariskan oleh para Bapa Konsili itu, mengutip kata-kata Beato Yohanes Paulus II, “sama sekali belum kehilangan nilai dan kecemerlangannya.” Naskah-naskah itu perlu dibaca dengan benar, ditangkap dengan akal budi secara luas dan dicamkan di dalam hati secara mendalam sebagai dokumen yang penting dan mengikat dari Magisterium Gereja sendiri, semuanya di dalam jalur Tradisi Gereja … Saya sendiri merasa berkewajiban untuk menegaskan bahwa Konsili itu merupakan rahmat agung yang dicurahkan Allah kepada T a h u n I m a n | 9 Gereja di Abad XX, di mana kita dapat menemukan penunjuk arah untuk dapat mengarungi abad selanjutnya[9]. Saya juga ingin menekankan dengan sangat sekali lagi, apa yang sudah saya katakan tentang konsili ini beberapa bulan setelah saya terpilih sebagai Paus Pengganti Petrus: ”Apabila, kita menafsirkan dan mengimplementasikan Konsili itu dengan bimbingan suatu hermeneutika yang benar, maka Konsili itu bisa dan akan menjadi semakin berdaya-guna bagi pembaharuan Gereja yang senantiasa diperlukan.”[10] 6. Pembaruan Gereja juga bisa dilaksanakan melalui kesaksian yang diberikan oleh hidup umat beriman: yakni justru melalui cara-mengada mereka di dunia ini, Umat Kristiani dipanggil untuk memancarkan sabda kebenaran yang diwariskan Tuhan Yesus kepada kita. Konsili sendiri, dalam Konstitusi Dogmatik Lumen Gentium, mengatakan: “Sedangkan Kristus, yang ‘suci, tanpa kesalahan, tanpa noda,’ (Ibr 7:26) tidak mengenal dosa (lih. 2Kor. 5:21), melainkan datang hanya untuk menebus dosa-dosa umat (lih Ibr 2:17), Gereja merangkum pendosa-pendosa dalam pangkuannya sendiri. Gereja itu suci, dan sekaligus harus selalu dibersihkan, serta terus-menerus menjalankan pertobatan dan pembaharuan. Gereja, ‘dengan mengembara di antara penganiayaan dunia dan hiburan yang diterimanya dari Allah, maju, sambil mewartakan salib dan wafat Tuhan hingga Ia datang (lih 1Kor. 11:26). Tetapi Gereja diteguhkan oleh daya Tuhan yang telah bangkit, untuk dapat mengatasi sengsara dan kesulitannya, baik dari dalam maupun dari luar, dengan kesabaran dan cinta kasih, dan untuk dengan setia mewahyukan misteri Tuhan di dunia, kendati dalam kegelapan, sampai ditampakkan pada akhir Zaman dalam cahaya yang penuh”[11]. Dalam perspektif ini maka Tahun Iman adalah suatu panggilan kepada pertobatan yang otentik dan senantiasa diperbaharui untuk kembali kepada Tuhan, satu-satunya Juruselamat dunia. Melalui misteri wafat dan kebangkitan-Nya, Allah telah menyatakan secara penuh kasih yang menyelamatkan dan memanggil manusia kepada pertobatan hidup melalui pengampunan dosa (lih. Kis. 5:31). Bagi Santo Paulus, kasih ini memasukkan manusia ke dalam suatu kehidupan baru: “Kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah T a h u n I m a n | 10 dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” (Rom. 6:4) Melalui iman-kepercayaan, hidup baru ini membentuk seluruh keberadaan manusiawi kita secara radikal sesuai dengan keadaan baru sebagai buah kebangkitan. Sejauh manusia dengan bebas bekerja-sama, maka pikiran dan perasaan-perasaannya, mentalitas dan perilakunya sedikit demi sedikit akan dimurnikan dan ditransformasikan, dalam sebuah perjalanan yang tidak akan pernah sepenuhnya selesai di dalam hidup ini. “Hanya iman yang bekerja oleh kasih” (Gal. 5:6) akan menjadi kriteria baru bagi pemahaman dan tindakan yang mengubah seluruh hidup manusia (bdk. Rom. 12:2; Kol. 3:9-10; Ef. 4:20-29; 2Kor. 5:17). 7. “Kasih Kristus menguasai kita” (2Kor. 5:14): Kasih Kristuslah yang memenuhi hati kita dan mendorong kita untuk mewartakan kabar gembira. Sekarang ini, seperti juga dulu, Kristus mengutus kita ke lorong-lorong dunia ini untuk memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa di bumi (bdk. Mat. 28:16). Melalui kasih-Nya, Yesus Kristus menarik kepada diri-Nya orang-orang dari segala keturunan: dalam setiap jaman Dia menghimpun Gereja sambil mempercayakan kepada Gereja itu pewartaan Injil dengan perintah-Nya yang senantiasa baru. Pada jaman sekarang pun dirasa adanya kebutuhan akan komitmen Gereja yang lebih kuat bagi suatu evangelisasi baru, agar supaya orang menemukan kembali kegembiraan dalam percaya dan kegairahan dalam mengkomunikasikan iman itu. Dalam menemukan kembali kasih-Nya itu dari hari ke hari, kesiap-sediaan untuk diutus dari orang beriman ini mendapatkan kekuatan dan kegairahan yang tak akan pernah bisa pudar. Iman itu bertumbuh apabila ia dihidupi sebagai pengalaman kasih yang sudah diterima, juga bila ia dikomunikasikan sebagai suatu pengalaman rahmat dan kebahagiaan. Iman itu membuat kita berbuah subur, sebab dia memperluas hati kita dalam harapan dan memampukan kita untuk memberi kesaksian yang juga menghidupkan: memang, iman itu membuka hati dan budi siapa saja yang mendengar dan menjawab undangan Tuhan untuk tetap setia kepada sabda-Nya dan menjadi murid-Nya. Orang T a h u n I m a n | 11 yang percaya, demikian Santo Agustinus mengatakannya, “menguatkan dirinya sendiri dengan kepercayaannya itu.”[12] Santo Uskup dari Hippo itu memiliki alasan yang sungguh tepat untuk mengungkapkan dirinya seperti itu, karena sebagaimana kita tahu, hidupnya merupakan suatu pencarian terus-menerus akan keindahan iman-kepercayaan itu sampai saat ketika hatinya menemukan istirahat dalam Allah.[13] Karya tulisnya yang sangat ekstensif, di mana Agustinus memberi penjelasan tentang pentingnya percaya dan tentang kebenaran iman, sampai sekarang tetap merupakan warisan dengan kekayaan yang tiada taranya, dan tetap menjadi sarana bantu bagi banyak orang yang mencari Allah untuk menemukan jalan yang benar menuju “pintu kepada iman.” Karena itu, hanya melalui percaya, iman dapat bertumbuh dan menjadi kuat; tidak ada kemungkinan lain untuk mendapatkan kepastian yang berkaitan dengan kehidupan seseorang, selain dari pada meninggalkan diri sendiri dalam suatu crescendo yang terus-menerus, masuk ke dalam tangan-tangan kasih yang sepertinya terus bertumbuh tanpa henti karena memang berasal dari Allah. 8. Pada kesempatan yang membahagiakan ini, saya ingin mengundang saudara-saudara saya para Uskup dari seantero dunia untuk bergabung bersama dengan Pengganti Petrus selama masa yang penuh dengan rahmat spiritual yang dianugurahkan Tuhan kepada kita ini, untuk mengingat anugerah iman yang sangat berharga itu. Kita hendak merayakan Tahun itu secara pantas dan menghasilkan buah. Renungan-renungan tentang iman hendaknya digalakkan, untuk membantu segenap umat yang beriman kepada Kristus agar mendapatkan kesadaran yang lebih baik dan secara lebih bersemangat melekatkan diri kepada Kabar Gembira, khususnya ketika sedang terjadi perubahan mendalam seperti yang sedang dialami oleh umat manusia pada saat ini. Kita akan mendapat kesempatan untuk mengakui iman-kepercayaan kita akan Tuhan yang bangkit di gereja-gereja katedral kita T a h u n I m a n | 12 dan di dalam gereja-gereja di seluruh dunia; juga di rumah-rumah kita dan di antara kaum keluarga kita, sehingga setiap orang akan merasakan betapa perlunya pemahaman yang lebih baik dan kemudian untuk meneruskannya kepada generasi yang akan datang iman-kepercayaan segala jaman tersebut. Komunitas-komunitas biara seperti juga komunitas-komunitas paroki, dan semua lembaga-lembaga gerejani, baik yang lama maupun yang baru, semuanya harus menemukan cara untuk mengakui secara publik Credo kita sepanjang Tahun itu. 9. Pada tahun ini kita hendak membangkitkan dalam diri setiap orang beriman aspirasi untuk mengakui iman-kepercayaannya dalam kepenuhannya dan dengan keyakinan yang baru, juga dengan penuh kepercayaan dan harapan. Tahun ini akan menjadi juga sebuah kesempatan bagus untuk mengintensifkan perayaan iman itu di dalam liturgi, teristimewa di dalam perayaan Ekaristi, yang adalah “puncak ke mana seluruh kegiatan Gereja diarahkan … tetapi juga adalah sumber dari mana seluruh kekuatan Gereja itu … mengalir.”[14] Pada saat yang sama, kita berdoa juga agar kesaksian hidup umat beriman semakin dapat dipercaya. Untuk menemukan kembali isi iman yang diakui, dirayakan, dihayati dan didoakan[15], dan untuk merenungkan kembali kegiatan iman itu adalah tugas yang setiap umat beriman harus menjadikannya tugasnya sendiri, khususnya selama Tahun Iman ini. Bukan tanpa alasan jika umat Kristiani pada abad-abad pertama dituntut untuk menghafalkan pengakuan iman-kepercayaannya itu. Bagi mereka hal itu lalu berfungsi sebagai doa mereka setiap hari, agar mereka tidak melupakan komitmen yang telah mereka ikrarkan ketika mereka dibaptis. Dengan kata-kata yang sarat dengan makna, Santo Agustinus berbicara tentang hal ini dalam homili beliau tentang redditio symboli, tentang “penyerah-alihan pengakuan iman,” katanya: “Pengakuan iman dari misteri-misteri kudus yang telah kalian terima secara serentak dan yang pada hari ini telah kalian ucapkan kembali satu demi satu itu, adalah kata-kata di atas mana iman- T a h u n I m a n | 13 kepercayaan Bunda Gereja didirikan dengan kokoh, pada landasan yang menetap, yang adalah Kristus, Tuhan sendiri. Kalian telah menerimanya, namun kalian harus tetap memeliharanya di dalam akal-budi dan hati-sanubari kalian, kalian harus tetap mengulang-ulangnya di ranjang tempat tidur kalian, tetap mengingat-ingatnya di pasar-pasar, tidak melupakannya sementara kalian makan-makan, bahkan ketika kalian sedang tidur pun, kalian harus tetap memperhatikannya dengan hati kalian.”[16] 10. Di sini saya ingin memberikan suatu garis besar dari sebuah sarana yang dimaksudkan untuk membantu kita memahami secara lebih mendalam, bukan saja isi muatan iman-kepercayaan itu, melainkan juga tindakan yang akan kita pilih untuk mempercayakan diri kita sepenuhnya kepada Allah dengan cara yang sebebas-bebasnya. Pada kenyataannya memang ada kesatuan yang mendalam antara tindakan dengan mana kita beriman dan muatan isi, kepadanya kita memberikan kesepakatan kita. Santo Paulus membantu kita memasuki kenyataan ini ketika dia menulis: “Dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.” (Rom. 10:10) Hati itulah yang menunjukkan bahwa tindakan pertama yang membawa seorang percaya adalah anugerah dari Allah dan tindakan rahmat yang bergiat dan mengubah seseorang dari dalam. Dalam kaitan ini secara khusus contoh dari Lydia menjadi sangat berarti. Santo Lukas menceriterakan, bahwa ketika berada di Filipi, pada suatu hari Sabbat, Paulus memberitakan Injil kepada beberapa wanita, di antaranya adalah Lydia dan “Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus” (Kis. 16:14). Di dalam ungkapan itu terkandunglah suatu makna yang penting. Santo Lukas mengajarkan, bahwa memahami muatan isi dari yang harus diimani tidaklah mencukupi, apabila hati, yakni tempat kudus yang khas dalam diri seseorang, tidak turut dibuka oleh rahmat yang membuat mata bisa melihat apa yang ada di bawah permukaan dan memahami, bahwa yang sedang diberitakan itu adalah Sabda Allah sendiri. T a h u n I m a n | 14 “Pengakuan dengan bibir” itu pada gilirannya menunjukkan, bahwa “beriman” itu mengandung juga pengertian “kesaksian secara publik” serta sebuah komitmen. Seorang Kristiani tidak pernah boleh berpikir bahwa beriman itu adalah urusan pribadi saja. Beriman berarti memilih untuk memihak kepada Allah dan dengan demikian berada dengan Dia juga. “Memihak kepada Dia” ini ke depan menunjuk kepada pemahaman akan alasan-alasan mengapa dia menjadi percaya. Iman-kepercayaan, justru karena dia adalah suatu tindakan yang bebas, juga menuntut pertanggungjawaban sosial atas apa yang diimaninya. Pada hari Pentakosta Gereja menunjukkan dengan sejelas-jelasnya dimensi publik dari keberimanan ini dan memberitakan dengan tanpa takut iman-keprcayaan seseorang kepada setiap orang. Anugerah Roh Kuduslah yang telah membuat kita siap untuk diutus dan menguatkan kesaksian kita serta menjadikannya terus-terang dan berani. Pengakuan iman adalah suatu tindakan yang sekaligus bersifat perseorangan sendiri-sendiri, tetapi juga secara berkomunitas bersama-sama. Gerejalah yang sebenarnya pertama-tama menjadi subjek iman-kepercayaan. Di dalam iman-kepercayaan dari komunitas kristiani, setiap pribadi individual menerima baptisan, suatu tanda yang efektif masuknya ke dalam kalangan umat beriman untuk memperoleh keselamatan. Dalam buku Katekismus Gereja Katolik, kita membaca: “Aku percaya”, itulah iman Gereja, sebagaimana setiap orang beriman mengakui secara pribadi, terutama pada waktu Pembaptisan. “Kami percaya” itulah iman Gereja, sebagaimana para Uskup yang berkumpul dalam konsili itu mengakui, atau lebih umum, sebagaimana umat beriman mengakui dalam liturgi. “Aku percaya”: demikianlah juga Gereja, ibu kita berbicara, yang menjawab Allah melalui imannya dan yang mengajar kita berkata: “aku percaya”, “kami percaya.”[17] Jelas sekali, bahwa pengetahuan akan isi iman-kepercayaan adalah sesuatu yang hakiki agar seseorang dapat memberikan persetujuannya, artinya untuk T a h u n I m a n | 15 mengikatkan diri sepenuhnya, dengan segenap akal-budi dan kehendaknya, kepada apa yang ditawarkan oleh Gereja. Pengetahuan akan iman-keprcayaan ini membuka pintu masuk ke dalam kepenuhan misteri karya penyelamatan yang diwahyukan oleh Allah. Persetujuan yang kita berikan itu berarti pula, bahwa ketika kita percaya, kita menerima dengan bebas seluruh misteri iman-kepercayaan, sebab penjamin dari kebenarannya adalah Allah sendiri, yang mewahyukan dirinya sendiri dan mengijinkan kita mengetahui misteri cinta-kasih-Nya.[18] Di pihak lain, kita tidak boleh melupakan, bahwa di dalam konteks budaya kita, ada banyak bangsa, yang meskipun tidak menyatakan memiliki anugerah iman itu, namun secara tulus mereka mencari arti makna yang tertinggi dan kebenaran yang pasti dari hidup dan dunia mereka. Pencarian ini merupakan “pendahuluan” yang otentik kepada iman-kepercayaan, justru karena ia menuntun orang pada jalan yang membawanya ke misteri Allah. Sebenarnya akal-budi manusia mengandung di dalam dirinya tuntutan pada “apa yang selamanya sahih dan langgeng.”[19] Tuntutan ini mengandung suatu panggilan yang menetap, karena terpatri secara tak-terhapuskan di dalam hati manusia, yang membuatnya bergerak mencari Dia yang kita tidak akan mencarinya seandainya Dia sudah tidak lebih dahulu bergerak untuk mendapatkan kita.[20] Pada perjumpaan inilah iman-kepercayaan mengundang kita dan membuka diri kita sepenuh-penuhnya. 11. Untuk sampai pada pemahaman sistematik pada isi iman-kepercayaan itu, semua orang dapat menemukannya di dalam buku Katekismus Gereja Katolik, suatu sarana-bantu yang sangat berharga dan tak tergantikan. Dokumen itu adalah salah satu buah terpenting Konsili Vatikan Kedua. Dalam Konstitusi Apostolik Fidei Depositum, yang ditandatangani, bukan hanya karena kebetulan, pada Hari Ulang Tahun ketigapuluh Pembukaan Konsili Vatikan II. Beato Yohanes Paulus II menulis: ”Katekismus ini akan menjadi suatu kontribusi yang sangat penting bagi karya pembaruan seluruh T a h u n I m a n | 16 kehidupan Gereja … Maka saya menyatakan katekismus itu menjadi suatu sarana-bantu yang sah dan legitim bagi persekutuan gerejawi dan menjadi norma yang pasti bagi pengajaran iman.”[21] Dalam arti inilah bahwa Tahun Iman itu harus mengupayakan suatu usaha terpadu untuk menemukan kembali dan untuk mempelajari isi muatan fundamental iman-kepercayaan yang sekarang disarikan secara sistematis dan secara organis di dalam Katekismus Gereja Katolik. Di sinilah, sebenarnya, kita melihat kekayaan ajaran yang telah diterima oleh Gereja, dijaga, dan diwartakan sepanjang dua ribu tahun sejarah keberadaannya. Dari Kitab Suci sampai ke Para Bapa-bapa Gereja, dari para pakar teologi sampai ke para kudus sepanjang segala abad, Katekismus ini memberikan rekaman yang menetap dari banyak cara yang dipergunakan Gereja untuk merenungkan iman itu dan berkembang maju dalam ajaran, dan dengan demikian kepastian bagi para beriman dalam kehidupan beriman mereka. Dalam strukturnya yang seperti itu Katekismus Gereja Katolik ini mengikuti perkembangan iman-kepercayaan langsung kepada tema-tema besar dalam kehidupan sehari-hari. Di setiap halaman demi halaman, kita temukan, bahwa apa yang disajikan di sini bukanlah teori belaka, akan tetapi sungguh suatu perjumpaan dengan Seorang Pribadi yang hidup di dalam Gereja. Pengakuan iman diikuti oleh penerimaan kehidupan sakramental di mana Kristus hadir, bergiat dan melanjutkan karya-Nya membangun Gereja. Tanpa liturgi dan sakramen-sakramen, pengakuan itu akan kehilangan daya-gunanya, sebab dia akan kehilangan rahmat yang mendukung kesaksiannya secara Kristiani. Melalui kriteria yang sama, ajaran Katekismus ini tentang kehidupan moral mendapatkan artinya yang penuh, apabila memang ditempatkan dalam keterikatannya dengan iman-kepercayaan, liturgi dan doa. T a h u n I m a n | 17 12. Maka dari itu dalam Tahun Iman itu nanti, Katekismus Gereja Katolik itu akan dipergunakan sebagai sarana bantu untuk memberikan dukungan yang nyata bagi iman-kepercayaan, terutama bagi mereka yang terkait dengan pembinaan umat kristiani, yang berada dalam saat sangat krusial dalam konteks budaya kita. Untuk maksud itu saya telah mengundang Kongregasi Untuk Ajaran Iman, dalam kesepakatan dengan Dikasteri-dikasteri Takhta Suci yang kompeten, untuk mempersiapkan sebuah Nota, yang akan memberikan arahan-arahan kepada umat beriman Gereja dan perseorangan tentang bagaimana harus menghayati Tahun Iman itu seefektif dan setepat mungkin bagi kepentingan iman-kepercayaan dan pewartaan. Dalam skala yang lebih besar dari pada di masa lampau, sekarang ini iman dihantam dengan serangkaian pertanyaan yang muncul dari suatu sikap dasar yang sudah berubah, yang, khususnya dewasa ini, bidang kepastian-kepastian rasional diberi pembatasan-pembatasan terhadap penemuan-penemuan ilmiah dan teknologi. Namun demikian, Gereja tidak pernah merasa takut untuk tetap menunjukkan, bahwa tidak mugkin ada pertentangan antara iman dan ilmu yang sejati, sebab keduanya, kendatipun jalur yang ditempuh berbeda, mengarah menuju kepada kebenaran.[22] 13. Satu hal yang akan sangat menentukan dalam tahun Iman itu adalah, bila kita menelusuri sejarah iman kita yang sebenarnya ditandai dengan misteri yang tak terkatakan dari keterjalinan antara kesucian dan dosa. Sementara yang pertama menyoroti kontribusi besar yang diprestasikan oleh laki-laki atau perempuan bagi pertumbuhan dan perkembangan persekutuan melalui kesaksian hidup mereka, yang kedua harus menantang dari setiap orang suatu kerja yang tulus dan berlanjut dari pertobatan untuk mengalami belas-kasih Bapa, yang dtawarkan kepada semua orang. Selama waktu itu kita akan harus tetap memandang Yesus Kristus, “yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada T a h u n I m a n | 18 kesempurnaan” (Ibr. 12:2): di dalam Dia, semua kekhawatiran dan semua kerinduan hati manusia mendapatkan pemenuhannya. Sukacita dari kasih, jawaban atas drama penderitaan dan kesakitan, kekuatan dari pengampunan di hadapan sebuah penghinaan yang diterima dan kemenangan hidup atas kehampaan kematian: semuanya itu mendapatkan kepenuhannya di dalam misteri inkarnasi-Nya, ketika Dia menjadi manusia, ketika Dia mengambil-bagian di dalam kelemahan manusiawi kita, sehingga semuanya itu ditransformasikan-Nya melalui kekuatan dari kebangkitan-Nya. Di dalam Dia yang telah mati lalu bangkit kembali demi keselamatan kita itu, contoh teladan iman-kepercayaan yang telah menandai dua ribu tahun sejarah keselamatan kita ini mendapatkan pencerahan yang sepenuh-penuhnya. Dengan iman, Maria menerima kata-kata Malaekat dan percaya kepada pesan bahwa dia akan menjadi Bunda Allah dalam ketaatan dari kesalehannya (bdk. Luk. 1:38). Ketika mengunjungi Elizabet, dia melambungkan madah pujiannya kepada Yang Mahatinggi karena karya ajaib yang telah dikerjakan-Nya di dalam diri mereka yang menaruh kepercayaan kepada-Nya (bdk. Luk. 1:46-55), Dengan sukacita dan kegentaran dia melahirkan anaknya yang tunggal, dengan keperawanannya yang tetap tak ternoda (bdk. Luk.2:6-7). Sambil tetap mempercayai Yusuf, suaminya, ia membawa Yesus ke Mesir untuk menyelamatkan-Nya dari pengejaran Herodes (bdk. Mat, 2:15-17). Dengan kepercayaan yang sama, ia mengikuti Tuhan dalam pewartaan-Nya dan tetap menyertai-Nya sampai ke Golgota (bdk. Yoh. 19:25-27). Dengan iman-kepercayaannya, Maria mengecap buah-buah kebangkitan Yesus dan sambil tetap menyimpan setiap kenangan di dalam hatinya (bdk. Luk. 2:19,51). Ia menyerah-alihkan itu kepada Keduabelas Rasul yang berkumpul di ruang atas untuk menerima Roh Kudus (bdk. Kis, 114-2:1-4). Dengan iman, para rasul telah meninggalkan semuanya dan mengikuti Tuhan mereka (bdk. Mat. 10:28). Mereka percaya kepada kata-kata yang diwartakan-Nya tentang Kerajaan Allah yang telah datang dan dipenuhi di T a h u n I m a n | 19 dalam diri-Nya (bdk. Luk. 11:20). Mereka hidup dalam persekutuan dengan Yesus yang membina mereka dengan ajaran-Nya, dengan mewariskan kepada mereka suatu peraturan hidup, dengan mana mereka akan dikenal sebagai murid-murid-Nya setelah kematian-Nya (bdk. Yoh. 13:34-35). Dengan iman, mereka pergi ke seluruh dunia, mengikuti perintah-Nya untuk mewartakan Kabar Gembira kepada semua ciptaan (bdk. Mrk. 16:15) dan dengan tanpa takut mereka mewartakan kepada semua orang sukacita kebangkitan, tentangnya mereka adalah saksi-saksinya yang setia. Dengan iman, para murid membentuk komunitas pertama, yang dihimpun di sekeliling ajaran para rasul, di dalam doa, di dalam perayaan Ekaristi, sambil mempertahankan kepunyaan mereka sebagai milik bersama dan dengan demikian mereka memenuhi kebutuhan saudara-saudara (bdk. Kis. 2:42-47). Dengan iman, para martir menyerahkan hidup mereka, sambil memberi kesaksian pada kebenaran Injil yang telah mengubah hidup mereka dan membuat mereka mampu mendapatkan anugerah terbesar dari cinta-kasih: yakni pengampunan kepada para penganiaya mereka. Dengan iman, pria dan wanita telah membaktikan hidup mereka di dalam Kristus, sambil meninggalkan segala sesuatu, untuk dapat hidup dalam ketaatan, kemiskinan, dan kemurnian dalam kesederhanaan injili, sebagai tanda nyata dari penantian mereka akan kedatangan Tuhan yang tidak akan tertunda. Dengan iman, tak terbilang banyaknya orang kristiani telah memajukan tindakan bagi keadilan sehingga dengan demikian mereka melaksanakan sabda Tuhan, yang datang untuk mewartakan pembebasan dari semua penindasan dan mewartakan kedatangan suatu tahun penuh kebaikan bagi semua orang (bdk. Luk. 4:18-19). T a h u n I m a n | 20 Dengan iman, sepanjang abad-abad, pria dan wanita dari segala usia, yang namanya tercatat di dalam Kitab Kehidupan (bdk.Why. 7:9; 13:8), telah mengakui keindahan hal mengikuti Tuhan Yesus kemana pun mereka dipanggil untuk memberi kesaksian pada kenyataan, bahwa mereka adalah orang-orang kristiani: di dalam keluarga, di tempat kerja, dalam kehidupan publik, dalam menjalankan kharisma dan pelayanan yang menjadi panggilan hidup mereka. Dengan iman, kita juga hidup: sambil menghayati pengakuan kita kepada Tuhan Yesus, yang hadir di dalam hidup kita dan sejarah kita. 14. Tahun Iman itu juga akan menjadi sebuah kesempatan yang bagus untuk mengintensifkan kesaksian amal-kasih, sebagaimana diingatkan oleh Santo Paulus kepada kita: “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan, dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” (Kor. 13:13) Dengan kata-kata yang lebih kuat, ‒ yang senantiasa telah menempatkan orang Kristiani di bawah kewajiban, ‒ Santo Yakobus mengatakan: “Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. Tetapi mungkin ada orang berkata: “Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan”, aku akan menjawab dia: “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.” (Yak. 2:14-18). Iman tanpa kasih tidak akan menghasilkan buah, sedang kasih tanpa iman hanya akan merupakan suatu perasaan yang senantiasa berada di bawah kuasa kebimbangan. Iman dan kasih saling membutuhkan satu sama lain, sedemikian sehingga yang satu akan membiarkan yang lain untuk tampil T a h u n I m a n | 21 menurut jalurnya sendiri-sendiri. Memang, banyak orang kristiani membaktikan hidupnya dengan kasih bagi mereka yang tersendiri, yang terpinggirkan atau yang terkucilkan, sebagaimana juga bagi mereka yang pertama-tama menuntut perhatian kita dan yang paling penting bagi kita untuk dibantu, sebab justru di dalam diri merekalah tampak cerminan wajah Kristus sendiri. Melalui iman kita dapat mengenal wajah Tuhan yang bangkit di dalam diri mereka yang meminta kasih kita. “Sesungguhnya, segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Mat. 25:40) Kata-kata ini haruslah menjadi peringatan yang tidak boleh dilupakan dan harus menjadi undangan yang menetap bagi kita untuk membalas kasih dengan mana Tuhan telah senantiasa memperhatikan kita. Imanlah yang memampukan kita mengenal Kristus dan kasih-Nyalah yang mendorong kita untuk membantu-Nya kapan saja Dia menjadi sesama yang kita jumpai dalam perjalanan hidup kita. Dikuatkan oleh iman, marilah kita memandang kepada komitmen kita di dunia ini sambiil menantikan “surga baru dan dunia baru, di mana terdapat kebenaran.” (2Ptr. 3:13; bdk. Why. 21:1) 15. Ketika sampai pada akhir hidupnya, Santo Paulus meminta Timotius muridnya untuk “mengejar iman” (lih. 2Tim. 2:22) dengan kesetiaan yang sama seperti ketika ia masih muda (bdk. 2Tim. 3:15). Kita mendengar undangan ini ditujukan juga kepada masing-masing kita, supaya jangan ada di antara kita yang menjadi malas di dalam iman. Iman yang menjadi pendamping seumur hidup inilah yang membuat kita mampu untuk memahami, setiap kali secara baru, karya-karya ajaib Tuhan bagi kita. Sambil senantiasa peka terhadap tanda-tanda jaman yang terhimpun di dalam sejarah kita di masa sekarang ini, iman itu membuat masing-masing kita sendiri menjadi tanda dari kehadiran Tuhan yang bangkit di dunia kita ini. Apa yang secara khusus dibutuhkan oleh dunia kita sekarang ini adalah kesaksian yang dapat dipercaya dari orang-orang yang mendapatkan pencerahan di dalam budi dan hatinya oleh sabda Tuhan dan kemudian T a h u n I m a n | 22 mampu membuka hati dan budi bagi banyak orang lain untuk merindukan Allah dan hidup yang sejati, hidup yang kekal abadi. “Supaya firman Tuhan beroleh kemajuan dan dimuliakan” (2Tes. 3:1): semoga Tahun Iman ini membuat hubungan kita dengan Krsitus, Tuhan, semakin bertambah kuat, karena hanya di dalam Dialah ada kepastian untuk memandang masa depan dan ada jaminan dari kasih yang sejati dan lestari. Semoga kata-kata Santo Petrus ini akan dapat memberikan seberkas pencahayaan yang terakhir atas iman ini: “Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu — yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api — sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya. Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.” (1Ptr. 1:6-9) Hidup umat kristiani mengenal baik pengalaman sukacita maupun pengalaman penderitaan. Betapa banyak orang-orang kudus yang hidup di dalam kesunyian. Betapa banyak umat beriman, juga sampai pada hari ini, yang merasa dicobai oleh sikap diam Allah, sementara mereka ingin mendengarkan suara-Nya yang menghibur. Percobaan-percobaan hidup, sementara hal itu memang membantu kita untuk memahami misteri salib dan turut mengambil-bagian dalam penderitaan Kristus (bdk. Kol. 1:24), menjadi juga suatu pendahuluan kepada sukacita dan harapan ke mana iman juga mengarahkan: “jika aku lemah, maka aku kuat.” (2Kor. 12:10) Kita percaya dengan kepastian yang kokoh bahwa Tuhan Yesus telah mengalahkan kejahatan dan kematian. Dengan kepercayaan yang pasti ini kita mempercayakan diri kita kepada-Nya: Dia, yang hadir di tengah-tengah kita, mengalahkan kekuatan si jahat itu (bdk. Luk. 11:20) dan Gereja, T a h u n I m a n | 23 persekutuan belas-kasih-Nya yang tampak, tinggal di dalam Dia sebagai suatu tanda rekonsiliasi yang definitif dengan Bapa. Marilah kita mempercayakan waktu penuh rahmat ini kepada Bunda Allah, yang diwartakan sebagai yang “berbahagialah ia, yang telah percaya.“ (Luk. 1:45) Dikeluarkan di Roma, dari Basilika Santo Petrus, pada tanggal 11 Oktober 2011, tahun kepausan saya yang ke tujuh. PAUS BENEDIKTUS XVI Catatan Kaki: [1] Homili pada awal menjabat sebagai Uskup Roma dalam pelayanan sebagai pengganti Petrus (24 April 2005):AAS 97 (2005), 710. [2]Lih. Benedictus XVI, Homili dalam Misa “Terreiro do Paço” di Lisabon, (11 Mai 2010); Insegnamenti VI: 1 (2010), 673. [3] Lih. Joannes Paulus II, Konstitusi Apostolik Fidei Depositum (11 Oktober 1992): AAS 86 (1994), 113-118. [4] Lih. Laporan terakhir Sinode Luar Biasa II Para Uskup (7 Desember 1985), II, B, a, 4 in Enchiridion Vaticanum, ix, n. 1797. [5] Paulus VI, Ekshortasi Apostolik Petrum et Paulum Apostolos pada perayaan XIX abad kemartiran St Petrus dan Paulus (22 Februari 1967): AAS 59 (1967), 196. [6] Ibid., 198. [7] Paulus VI, Credo Umat Allah, Homilidalam Misa pada perayaan XIX abad kemartiran St Petrus dan Paulus pada penutupan “Tahun Iman” (30 Juni 1968): AAS60 (1968), 433-445. [8] PaulusVI, Audiensi Umum (14 Juni 1967): Insegnamenti V (1967), 801. T a h u n I m a n | 24 [9] Joannes Paulus II, Surat Apostolik Novo Millennio Ineunte (6 Januari 2001), 57: AAS 93 (2001), 308 [10] Sambutan kepada Curia Romana, (22 Desember 2005): AAS 98 (2006), 52. [11] Konsili Ekumenis Vatikan II, Konstiotusi Dogmatis tentang Gereja Lumen Gentium, 8. [12] De Utilitate Credendi, I:2. [13] Konsili Ekumenis Vatikan II, Konstitusi tentang Lityurgi Suci Sacrosanctum Concilium, 10. [14] KOnsili Ekumenis Vatikan II, Konstitusi tentang Liturgi Suci Sacrosanctum Concilium, 10. [15] Lih.. Joannes Paulus II, Konstitusi Apostolik Fidei Depositum (11 Oktober 1992): AAS 86 (1994), 116. [16] Sermo 215:1. [17]Katekismus Gereja Katolik, 167. [18] Lih.Konsili ekumenis Vatikan I, Konstitusi Dogmatis tentang Iman Katolik, Dei Filius, Bab. III: DS 3008-3009: Konsili ekumenis Vatikan II, Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi Dei Verbum, 5. [19] Benediktus XVI, Sambutan di Collège des Bernardins, Paris (12 September 2008): AAS100 (2008), 722. [20] Lih.. Santo Augustinus, Confessions, XIII:1. [21] Joannes Paulus II, Konstitusi Apostolik Fidei Depositum (11 Oktober 1992): AAS 86 (1994), 115 dan 117. [22] Lih. Joannes Paulus II, Ensiklik Fides et Ratio (14 September 1998), 34, 106: AAS 91 (1999), 31-32, 86-87. T a h u n I m a n | 25 RINGKASAN PETUNJUK-PETUNJUK PASTORAL UNTUK TAHUN IMAN oleh Kongregasi Ajaran Iman Pada tanggal 6 Januari 2012 Kongregasi Ajaran Iman, dengan Nota Pastoral, telah menyampaikan beberapa usulan, anjuran, dan petunjuk untuk mengisi Tahun Iman di tingkat Konferensi para Uskup, keuskupan, paroki, hidup bakti, serta gerakan-gerakan gerejani. Tahun Iman ini adalah kesempatan penuh rahmat agar umat kristiani-katolik sungguh menyadari dan menyelami, bahwa iman itu adalah perjumpaan dengan Pribadi Yesus Kristus yang sudah bangkit; Dialah yang memberi cakrawala baru serta arah hidup yang menentukan. Di jaman kita ini juga, "iman adalah anugerah yang perlu ditemukan kembali, dipelihara dan dinyatakan dalam kesaksian” (n.2). Kiranya Tuhan memberi kepada kita masing-masing penghayatan yang indah dan menggembirakan sebagai orang beriman kristiani. Petunjuk-petunjuk untuk merayakan Tahun Iman ini bertujuan untuk mendukung perjumpaan dengan Yesus Kristus melalui saksi, pewarta, evangelis iman yang otentik, serta pengetahuan yang benar mengenai inti ajaran iman katolik. Diharapkan juga agar penghayatan iman yang penuh kegembiraan mendukung peneguhan persatuan dan kesatuan antara kelompok-kelompok yang masuk dalam Gereja Kristus. A. TINGKAT GEREJA UNIVERSAL 1. Sidang Agung ke-13, yaitu Sinode para Uskup dengan fokus utama: EVANGELISASI BARU UNTUK MENERUSKAN PEWARTAAN IMAN KRISTIANI. Sinode Agung ini dimulai pada tanggal 11 Oktober 2012 dan sekaligus secara resmi merupakan pembukaan Tahun Iman. Hendaknya umat mendukung dengan doa. T a h u n I m a n | 26 2. Baik juga bila memungkinkan dilaksanakan peziarahan ke Tahta Suci Santo Petrus serta memperbaharui iman kepada Allah Tritunggal: Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Demikian juga didorong peziarahan ke Tanah Suci. 3. Berziarah ke tempat penampakan Bunda Maria atau tempat berkaitan Bunda tersuci di daerah masing-masing. Dalam Tahun Iman ini, umat kristiani hendaknya memandang Bunda Maria - citra Gereja - yang menyatukan dalam DIRINYA perwujudan iman, dengan memahami peranan Bunda Maria dalam karya keselamatan, mencintaiNya khususnya melalui peziarahan dan perayaan di tempat yang telah disucikanNya. 4. Diharapkan Hari Kaum Muda Katolik sedunia di Rio de Janeiro pada Juli 2013 akan memberi kesempatan kepada kaum muda katolik untuk mengalami kegembiraan yang berasal dari iman kepada Yesus Kristus dalam persekutuan dengan seluruh Gereja Katolik. 5. Hendaknya diadakan sejenis simposium, seminar, dan pertemuan-pertemuan tingkat internasional yang mendukung kesaksian iman sejati dan pengetahuan ajaran iman katolik. Dengan demikian nyatalah bahwa Sabda ilahi pada jaman kita ini berkembang dan mampu memberi kesaksian; hendaknya iman menjadi standar dan nilai terhadap ilmu dan karya bagi seluruh hidup manusia. 6. Diharapkan juga digiatkan studi untuk memahami dan menyelami ajaran iman katolik yang telah disampaikan melalui Konsili Vatikan II dan Katekismus Gereja Katolik. 7. Hal yang sama diharapkan dapat direncanakan bagi para seminaris pada awal tahun propedeutik (persiapan) dan dalam studi teologi, untuk para imam, para novis pria dan wanita dan bagi mereka yang menghayati hidup bakti serta gerakan-gerakan gerejani. Kepada mereka yang menghayati hidup bertapa, rahib, dan rubiah dianjurkan doa khusus. 8. Dalam Tahun Iman, hendaknya kita bekerjasama dengan Komisi Kepausan Bagi Kesatuan antar Umat Kristiani. Oleh sébab itu diharapkan juga kegiatan dalam bentuk ekumenis karena salah satu T a h u n I m a n | 27 intensi dari Konsili Ekumene Vatikan II adalah pemulihan kesatuan tersebut untuk bersama-sama mengungkapkan iman yang sama antara semua umat yang telah dibabtis. 9. Untuk seluruh kegiatani ini hendaknya dibentuk sebuah Sekretariat yang mengkoordinasi seluruh inisiatif dari pelbagai Dikasteri. Akan disediakan pula sebuah situs internet khusus yang menyediakan pelbagai informasi terkait Tahun Iman ini. 10. Penutupan Tahun Iman akan dirayakan pada Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam, tgl 24 November 2013, dengan perayaan Ekaristi dan pembaharuan iman katolik/Credo. B. TINGKAT KONFERENSI PARA USKUP 1. Hendaknya para konferensi merencanakan suatu hari khusus tentang iman, kesaksian pribadi, dan gaya pewartaan bagi bagi kaum muda, karena para uskup adalah guru dan bentara iman. 2. Sangat berguna bila diterbitkan kembali dokumen-dokumen Konsili Vatikan II, Katekismus Gereja Katolik, dan Kompendium dalam bentuk saku, serta membahas tema yang penting dan mendesak menyangkut problem-problem kaum muda. Dalam hal ini diminta memanfaatkan alat teknologi komunikasi dan elektronik. 3. Dapat diusahakan penerjemahan dokumen dalam bahasa-bahasa mana pun dan diusahakan juga dana untuk mewujudkan hal tersebut. Semua ini di bawah pengawasan Konsilium/tim evangelisasi bangsa-bangsa. 4. Para gembala umat dapat mengusahakan penggunaan fasilitas teknologi komunikasi, TV, radio, film, untuk mengenalkan hal-hal mengenai iman, ajaran, dan makna gerejani Konsili Vatikan II bagi publik secara lebih luas. 5. Para kudus dan beatus merupakan saksi sejati iman. Oleh sebab itu, hendaknya diberi kesempatan agar mereka diperkenalkan di daerah asal masing-masing dengan memanfaatkan pula alat komunikasi modern. T a h u n I m a n | 28 6. Hendaknya karya seni berupa bangunan, lukisan, dan lain-lain yang terdapat di daerah konferensi para uskup dilindungi dan dipelihara karena karya seni dapat menjadi sarana katekese yang potensial. 7. Di sekolah tinggi teologi, seminari, dan universitas katolik, para dosen melalui ajaran masing-masing hendaknya diajak untuk membuktikan relevansi/pengaruh isi Katekismus Gereja Katolik beserta implikasinya dalam pelbagai mata kuliah yang mereka ajarkan. 8. Dengan kerjasama antara para teolog dan para pengarang hendaknya dibuat bahan atau selebaran apologetis dengan isi yang dapat dipercaya untuk disebarkan secara luas. Harapannya agar setiap orang beriman dapat menemukan jawaban yang lebih baik atas pelbagai persoalan iman yang dihadapinya dalam banyak kesempatan, misalnya dalam sekte-sekte yang muncul, terhadap masalah sekularisme, relatisme, dan pertanyaan yang berasal dari budaya dan kemajuan ilmu serta kesulitan beraneka ragam lainnya. 9. Sangat diharapkan agar segala pengajaran, bahan-bahan katekese di tingkat lokal selalu disesuaikan dengan ajaran Katekismus Gereja Katolik atau menggunakan katekismus-katekismus yang sudah diterbitkan di salah satu konferensi para uskup, untuk saling melengkapi, bila perlu. 10. Dengan kerjasama dengan Kongregasi Pendidikan Katolik hendaknya diteliti sampai sejauh mana isi Katekismus Gereja Katolik telah diperhatikan dalam Ratio Studiorum bagi para calon imam dan dalam kurilulum teologi. C. TINGKAT KEUSKUPAN 1. Hendaknya pembukaan dan penutupan Tahun Iman dirayakan secara meriah di setiap Gereja setempat (katedral) untuk mengakui iman akan Yesus Kristus yang sudah bangkit. 2. Dirasa penting agar setiap keuskupan mengadakan satu hari studi khusus untuk membahas Katekismus Gereja Katolik, terutama bagi para imam, biarawan-biarawati, dan para katekis. Dalam kesempatan ini, baik bila T a h u n I m a n | 29 mereka diajak untuk menemukan kembali kegembiraan yang diperoleh berkat iman, lebih-lebih di mana terdapat Gereja muda — daerah misi. 3. Hendaknya setiap Uskup mengeluarkan surat gembala bertemakan iman dengan mengingatkan kembali peranan besar Konsili Vatikan II dan Katekismus Gereja Katolik, sambil tetap memperhatikan keistimewaan dan kebutuhan setempat yang ditemukan di tengah umatnya. 4. Diharapkan agar di setiap keuskupan direncanakan pertemuan-pertemuan tentang katekese yang ditujukan kepada kaum muda atau kepada mereka yang mau mencari arah hidup untuk menemukan keindahan panggilan iman gerejani serta menggalakkan pertemuan yang berisi kesaksian iman yang penuh makna. Semua ini hendaknya selalu berada di bawah pengawasan Uskup. 5. Diharapkan dapat dilihat kembali sampai sejauh mana ajaran Konsili Vatikan II dan Katekismus Gereja Katolik telah diterima dan dihayati dalam hidup dan misi Gereja setempat dan demi peningkatan peranan seksi katekese dalam keuskupan yang bertanggung jawab atas pendidikan para katekis mengenai inti ajaran iman. 6. Materi kegiatan bina lanjut bagi para klerus selama Tahun Iman ini dapat difokuskan pada dokumen Konsili Vatikan II dan Katekismus Gereja Katolik, dengan membahas tema-tema misalnya: "pewartaan akan Kristus yang sudah bangkit"; "Gereja sebagai sakramen keselamatan"; "misi pewartaan/evangelisasi di dunia sekarang ini"; "iman dan mereka yang tidak percaya"; "iman, ekumenisme, dan dialog antar agama"; "iman dan hidup kekal"; "hermeneutika tentang pembaharuan yang berkesinambungan"; "Katekismus dalam kepedulian pastoral". 7. Para Uskup diajak, khususnya pada masa prapaska, merencanakan perayaan tobat untuk memohon pengampunan kepada Allah, khususnya atas dosa-dosa melawan iman. Dalam Tahun Iman ini hendaknya imat diberi kesempatan untuk menerima Sakramen Pengampunan dengan penuh kesadaran dan secara lebih rutin. 8. Hendaknya dunia akademik dan budaya dilibatkan demi peningkatan dialog yang kreatif antara fides et ratio (iman dan akal) melalui seminar, T a h u n I m a n | 30 pertemuan, atau hari studi khususnya di pelbagai universitas katolik, untuk menunjukkan bahwa antara iman dan ilmu yang sejati tidak ada pertentangan karena keduanya, meskipun melalui jalan yang berbeda, terarah kepada Kebenaran — Veritas. 9. Dianggap penting untuk merencanakan pertemuan-pertemuan dengan mereka yang, walaupun tidak menyatakan secara eksplisit memiliki karunia iman, namun memiliki usaha/tingkah yang jujur untuk mencari kebenaran dan nilai akhir tentang hidup mereka dan tentang dunia. 10. Tahun Iman ini juga menjadi kesempatajn untuk lebih mempedulikan sekolah-sekolah katolik, yang merupakan tempat yang tepat untuk memberi kesaksian hidup tentang Tuhan kepada para murid dan untuk memelihara iman mereka. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan sarana katekese yang baik, misalnya: Kompendium Katekismus Gereja Katolik dan Youcat (Katekismus untuk Orang Muda). D. TINGKAT PAROKI / KOMUNITAS / KELOMPOK / GERAKAN GEREJANI- 1. Diperkenalkan kepada umat surat kepausan mengenai Tahun Iman, Porta Fidei. 2. Meningkatkan perayaan iman dalam liturgi, secara khusus melalui sakramen Ekaristi. Dalam perayaan Ekaristilah misteri iman, sumber evangelisasi baru, yaitu iman Gereja diwartakan, dirayakan, dan dikuatkan. Semua umat beriman hendaknya diajak untuk berpartisipasi dalam perayaan Ekaristi dengan lebih aktif, berbuah, dan penuh kesadaran, sehingga mereka menjadi saksi-saksi sejati akan Allah. 3. Para imam hendaknya menaruh perhatian lebih pada studi tentang Dokumen Konsili Vatikan II dan Katekismus Gereja Katolik dan mengambil bahan-bahan pastoral, katekese, homili, dan persiapan pelayanan sakramental darinya. Bahan-bahan homili kiranya juga menekankan aspek pokok iman, seperti: “perjumpoaan dengan Kristus”, “isi fundamental iman”, serta ”iman dan gereja”. T a h u n I m a n | 31 4. Para katekis hendaknya berpegang teguh pada materi ajaran Katekismus Gereja Katolik di bawah bimbingan para pastor. Mereka dapat mengadakan pertemuan kelompok umat beriman, saling bekerjasama untuk memperdalam pemahaman iman sehingga terbentuklah komunitas-komunitas iman yang bersaksi tentangnya. 5. Kiranya setiap paroki ada isaha untuk membagikan Katekismus Gereja Katolik atau Kompendium dan biku lain yang sesuai untuk keluarga, karena keluarga adalah gereja kecil dan tempat utama pewarisan iman. Hal ini bisa dilakukan dalam pelbagai kesempatan, seperti: pemberkatan rumah, baptisan dewasa, penerimaan krisma dan perkawinan. 6. Pengenalan akan pentingngya misi dan program-program populer lain di paroki dan di tempat bekerja kiranya dapat membantu umat beriman untuk menemukan kembali anugerah iman yang diterima ketika baptisan dan tugas untuk menjadi saksi iman dengan menyadari hakekat panggilan orang kristen sebagai rasul. 7. Selama masa ini, para anggota Tarekat Hidup Bakti dan Komunitas Karya Kerasulan hendaknya diajak untuk berkarya bagi karya evangelisasi baru dengan semangat persatuan pada Tuhan Yesus yang senantiasa diperbaharui pula, masing-masing menuurut karismanya, dengan kesetiaan pada Bapa Suci dan ajaran iman. 8. Komunitas kontemplatif selama masa ini hendaknya berdoa dengan lebih intensif terutama bagi pembaharuan iman di antara Umat Allah dan bagi dorongan baru yang mendukung penerusan iman di kalangan orang muda. 9. Kelompok dan gerakan-gerakan gerejani lain juga diajak untuk mengambil inisiatif keterlibatan selama Tahun Iman ini, masing-masing dengan karismanya sendiri dan dalam kerjasama dengan para pastornya. Kelompok dan Gerakan gerejani yang baru kiranya dapat pula menemukan cara-cara baru untuk memberikan kesaksian iman mereka secara kreatif dan murah hati. 10. Seluruh umat beriman, yang dipanggil untuk memperbaharui karunia iman, hendaknya berusaha mengkomunikasikan pengalaman iman dan T a h u n I m a n | 32 kasih mereka dengan saudara-saudara yang beragama lain, dengan mereka yang tidak beriman, dan dengan mereka yang bahkan tidak peduli dengan iman. Dengan cara itu kita berharap bahwa seluruh umat kristiani akan memulai suatu bentuk perutusan kepada siapa pun mereka hidup dan berkarya, dengan kesadaran bahwa mereka telah menyambut kabar keselamatan yang ditawarkan bagi setiap orang E. PENUTUP Iman adalah teman hidup yang memampukan kita menangkap, juga hal-hal baru, keindahan yang dilakukan Allah bagi kita. Dengan mencermati tanda-tanda jaman dalam kekinian sejarah, iman itu menuntut kita semua untuk menjadi tanda hidup bagi kehadiran Tuhan yang telah bangkit di dunia ini. Iman itu menyangkut baik tindakan pribadi maupun komunal: iman adalah karunia ilahi yang harus dihayati dalam persatuan dengan Gereja dan harus dikomunikasikan kepada dunia. Setiap kegiatan dalam Tahun Iman hendaknya diarahkan untuk membantu penemuan kembali yang menggembirakan atas iman dan penerusannya yang senantiasa diperbaharui. Petunjuk yang telah kami sajikan ini bertujuan untuk mengajak semua anggota Gereja melibatkan diri agar Tahun Iman ini menjadi kesempatan yang istimewa untuk membagikan apa yang kita anggap bernilai tinggi: Kristus Yesus, Penebus umat manusia, Raja semesta alam, "pemimpin dan penyempurna iman" (Ibr : 12 : 2). Dikeluarkan di Roma, Kongregasi untuk Ajaran Iman, 6 Januari 2012, pada Hari Raya Penampakan Tuhan. William Cardinal Levada Luis F. Ladaria Ketua Sekretaris